Skip to main content

Posts

Tidak setiap hari

Tidak tiap hari awan di atas Jakarta berpenampakan seperti itu di sore hari. Dan tidak tiap terjadi penampakan seperti itu saya sedang pegang kamera (pinjaman). Maka terjadilah ....

Ubah saja variabelnya

Jadi inget sama kejadian beberapa tahun lalu, di sebuah gedung yang mirip bioskop di tengah2 kampus yang lokasinya deket sama kebun binatang. Saat itu sedang berlangsung kuliah yang berjudul Fisika Matematika. Karena melihat sebagian besar mahasiswa mulai kebingungan dan bosan dengan materi kuliah, yang diindikasikan dengan pertambahan kadar bengong pada wajah mereka dibarengin dengan heuay (menguap yang lebar), Pak Dosen memberikan sebuah cerita lucu. "Kita sering denger bahwa, katanya, tingkat kecerdasan seseorang berbanding terbalik dengan tampang," beliau berkata sambil senyam-senyum. Kami yang mendengarkan hanya bisa tersenyum getir. Itu sebuah fakta yang buktinya bisa dilihat di kehidupan sehari-hari. Yah, saya tidak akan menjelaskan lebih jauh karena orang2 dengan tingkat tampang yg "rendah" pasti sudah lebih mengerti, karena bahkan orang2 dengan tingkat tampang yg "tinggi" juga sudah mengerti. "Itu benar," Pak Dosen melanjutkan. "Tap...

Rugi sebenernya

Tgl 15: biaya ADM -10.000 Tgl 30: bunga +11.000 Tgl 30: pajak bunga -2.200 Hmm, saldonya malah -1.200, ya? Jadi nabung di bank itu untung apa rugi, sih, sebenernya? Yg saya inget waktu SD adalah bahwa nabung di bank itu menguntungkan. Puyeng, ah.

Asisten

Sekuritas (S): Selamat pagi, maaf tasnya saya periksa. Si Kasep (K): Selamat pagi, silahkan. S: Tumben, Pak, hari ini tidak bawa raket. Nanti sore tidak main? K: Kebetulan raket sudah disimpan di atas. S: Ouwh. K: Jadi saya cuma perlu bawa baju dan sepatu dari rumah. S: Kapan nih saya bisa lihat Bapak main di Piala Thomas? K: Ya engga main, lah, saya kan cuma asisten. S: Wuih ... asisten pelatih? K: Bukan. Asisten ... pemain ... cadangan. S: (tanpa ekspresi) Ah, baik, Pak. Silahkan, antriannya masih panjang. Terima kasih.

Parahyangan 2009/03/29

Tadi waktu nyari kantong kresek di laci meja, gak sengaja nemuin selembar kertas agak kaku dan berwarna hijau kebiruan dengan desain seperti uang kertas. Sekilas aja saya langsung tahu kalau itu adalah tiket kereta api. Tiket kereta terakhir sudah saya simpan di tempat aman sebagai salah satu pengisi prasasti yang sedang saya bangun. Tapi ini ada tiket kereta tercecer? Saya cukup dibuat kesal mengingat sejak mengembara di Jakarta saya tidak pernah melakukan perjalanan dengan kereta api sendirian, artinya itu adalah tiket perjalanan kereta bersama si anu. Tapi kemudian saya penasaran. Saya perhatikan tanggal yg tertera di tiket Bandung-Gambir itu: 29-MAR-2009. Dan lebih jauh lagi saya lihat ke sebelah bawah ada tanggal: 28/03/2009. Seketika, kejadian lengkap dua hari tersebut melintas di dalam kepala. Seakan baru terjadi kemarin. Saya bingung. Saya ingin melupakan semuanya secara total. Sebagian besar hal, saya yakin, menurut saya, sudah berhasil saya hapus dari ingatan. Tapi sekarang s...

Oleh-oleh Lebaran: nyengir

Si Bibi: "Aa, sekarang mah jadi kurus jangkung ya ..." Saya: (nyengir) Saya inget tahun lalu, beliau memberi komentar yang sedikit beda ketika kami bertemu di hari Lebaran. Waktu itu beliau bilang, "waduh, Aa, kok sekarang jadi kurus, ya?" Tidak ada menyabit2 kata jangkung atau tinggi sedikitpun. Saat itu pun saya langsung menyadari kalau badan saya terlihat sangat kurus, walaupun dari dulu juga memang tidak pernah gemuk. Sementara orang lain hanya melihat lewat representasi pipi yg dulu cembung dan sekarang cekung. Tapi tahun ini saya disebut jangkung! Ya amfun, umur saya hampir 30! Gak mungkin banget bertambah tinggi secara alami. Jadi dengan mudah bisa disimpulkan: saya telah menjadi sangat-sangat-sangat kurus. *sedih niaaan* Bibi Yang Lain: "Cepet nikah, atuh, Aa. Kalau punya istri mah pasti makan juga terurus." Si Bibi: "Iya, Aa. Kapan atuh mau nikah? Bibi nanti pengen nganter." Saya: (nyengir lebih lebar lagi) Ini adalah artikel ke-dua yang...