Skip to main content

Posts

Showing posts with the label linux

AAC di Galaxy Fame

"Papah, file AAC gak bisa dimaenin nih!" si mamah komplen. Seingat saya, AAC atau M4A bisa dimainkan dengan baik di hampir semua gadget Samsung yang menggunakan OS Android. Saya periksa di feature sheet Samsung Galaxy Fame juga mengatakan bahwa dia mendukung format AAC bahkan AAC+. Akhirnya saya pinjam dulu itu henpon, lalu saya coba2 nyetel beberapa file audio. Nyatanya hanya sebagian file AAC yang tidak bisa dimainkan. Jadi ada yang bisa dimainkan dan ada juga yang tidak. Bahkan format output dari audio recorder defaultnya adalah M4A (yang merupakan sinonim dari AAC). Saya coba sedot file2 AAC yang bisa dimainkan dan tidak bisa dimainkan ke PC. Saya periksa dengan perintah 'file' dan tampaklah bedanya. File yang bisa dimainkan adalah file AAC yang _tidak berisi_ tag ID3. Sementara file yang berisi tag ID3 (ada title, artist, dll) tidak bisa dimainkan. (Catatan: player yg digunakan adalah player default). $ file *.aac bisa.aac: MPEG ADTS, AAC, v4 LC, 44.1 kH...

KMail good-by

KMail di KDE versi 4.4.3 dari Debian Squeeze bener2 gak bisa dipake tanpa akonadi yg aktif, crash terus. Dan saya gak mau pake akonadi. Cari2 di google ttg masalah yg sama/mirip, gak nemu. Pusing saya. Yah, sudahlah. Toh selama ini saya pake yg namanya open-source atau free-software adalah karena saya punya banyak pilihan. KMail tidak memuaskan, masih ada Thunderbird/Icedove. Jadi, good-by KMail.

Sepuluh perintah tersering

Sebuah untaian diskusi di Forum Debian[1] cukup menggelitik saya untuk ikut2an memamerkan 10 perintah terbanyak di shell/konsol GNU/Linux. Format history yang saya pakai adalah dalam bentuk '[%Y/%m/%d %H:%M:%S] $COMMAND' sehingga yang diprint oleh awk harus sedikit diubah. Ini adalah 10 perintah yang paling banyak saya eksekusi di PC kantor : idud@arcturus[~]$ history | awk '{print $4}' | awk 'BEGIN {FS="|"} {print $1}'|sort|uniq -c | sort -n | tail | sort -nr 853 cd 671 ls 583 ssh 274 mplayer 223 sudo 192 rsync 147 vim 142 ll 128 for 112 dig Hmmm, mengapa mplayer ada di urutan empat, ya? Hehe. *budakbangor* [1] http://forums.debian.net/viewtopic.php?f=3&t=21566

Memperbaiki audio/video delay pada AVI

Paling kesel ... Yah, kesel lagi. Kenyataannya saya kesel, hehe, dan audio-video yang tidak sinkron jelas mengurangi kenikmatan nonton film. Berkurangnya gede banget. Kesel, kan? Untunglah saya punya setidaknya dua alat yang membantu saya memperbaiki sinkronisasi file multimedia yang sudah terlanjur tidak sinkron. Tapi saya nyobanya di file avi saja, tidak tahu apakah alat dan cara yang sama berlaku untuk kontainer yang beda. Dan perlu diperhatikan juga, asinkronisasi yang bisa diperbaiki dengan cara ini adalah asinkronisasi linier. Maksud saya, ketidaksinkronannya berlaku konstan sepanjang file. Gak tau deh istilahnya bener atau engga :D. MEncoder [1] Ini andalan saya dari sejak zaman kuda. Paket dari MPlayer ini benar2 sangat membantu. Menggunakannya juga tidak sulit. Bahkan dengan bantuan tombol (-) dan (+) saat nonton menggunakan MPlayer, saya bisa menyesuaikan audio-delay saat itu juga. Tapi perubahan ini tidak tersimpan dalam file. Misalkan saya punya file multimedia yang audiony...

Rollback dulu

Menyedihkan. Sejak dist-upgrade Squeeze[1] terakhir, pidgin[2] 2.6.4 yang saya pake ngehang terus. Entah kenapa. Dan saya super males untuk ngaktifin debug mode (emang ada?) dan nyari penyebab kelakuannya itu. Jadi, yah, terpaksalah rolling back ke pidgin versi 2.5.8 (untuk Lenny[3]) dari repo debian-backports[4]. Kalau pidgin Lenny dari repo debian resmi cuman ada versi 2.4.x. Mudah2an kopete[5] segera bisa: 1. nyembunyiin notifikasi ngetik pesan 2. nyimpen log chat dalam format plain 3. dan kapabilitas lain Sementara ini, mari kita bersabar dulu. [1] http://wiki.debian.org/DebianSqueeze [2] http://pidgin.im [3] http://wiki.debian.org/DebianLenny [4] http://www.backports.org [5] http://kopete.kde.org Edit (2010/01/02): Huahahahahaha ... Ternyata cukup dengan mereset konfigurasi dan menguninstal pidgin-plugins-pack, sekarang pidgin dari repo Squeeze sudah tidak freeze lagi.

Equalizer di Amarok-2

Yes! Amarok versi 2.2.1-2 di Debian Squeeze saya sudah dilengkapi dengan fitur equaliser grafis. Ini yang saya tunggu2 dari dulu. Dan ternyata ada pilihan untuk TIDAK MENAMPILKAN context-view. Alhamdulillah. YESSS!!!

--help atau /?

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi kalau lagi berada di lingkungan UNIX, sebaiknya anda jauhi semua adat, budaya dan kebiasaan anda di dunia jendela. Di dunia jendela, mencari help untuk sebuah perintah salahsatu caranya adalah memberikan argumen "/?" pada perintah yang sedang kita cari help-nya. Engga aneh kan dengan perintah2 ini: > ping /? > format /? > del /? Nah, kalau anda berada di dunia UNIX, lalu anda nyari help pada perintah menghapus (rm), dan anda melakukan ini: # rm /? Kebayang apa yang akan terjadi. Yaaah, sebagian besar distro linux tidak punya file atau direktori yang sesuai dengan pola "/?". Tapi saya pernah tahu ada server yang menyimpan data di "/h" (mungkin singkatan dari /home). Heuheu, untung belum ngasih flag "-rf" dan tidak salah mencet enter alih2 tombol "?".

KDE on TV again

Nyatut berita dari KDENews[1] (padahal kemaren nonton, tapi gak nyadar): CBS' geektastic sitcom sensation " The Big Bang Theory " has joined a long list of KDE television outings with main character Leonard Hofstadter wearing Konqueror on his chest in last night's episode, "The Vengeance Formulation". View pictures inside! Membawa saya ke artikel lain[2], yang menunjukkan ternyata KDE sudah beberapa kali diekspos di media. Heroes s01e01 jelas saya lihat dengan mata saya sendiri. Sayang serial lain yang tertulis di [2] tidak saya ikuti. Jadi tambah seneng, karena (dari duluuu banget) pake KDE. *quite sure you'll accuse me as one of a kde fanbois. but, hell, i am!* [1] http://www.kdenews.org/2009/11/24/konqueror-icon-setting-tvs-ablaze [2] http://www.eikehein.com/kde/heroes/ [3] Logo KDE dari Oxygen icon set

Pake KDE4, ah

Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, saya berani juga menggunakan KDE4[1] (yang beneran bagus) untuk digunakan sehari2 di kantor. Bukan karena ini adalah versi yang baru, yang, nyatanya, butuh sedikit perubahan kebiasaan supaya terbiasa dalam hal penggunaan (biasa, bahasa yg belepotan), tapi juga karena beberapa hal berbau teknis yang saya tidak suka. Hal pertama adalah: KDE4 di Debian Squeeze secara memaksa mengharuskan ikut sertanya mysql-server. Waduh! Saya kan gak pake mysql di desktop. Buat apa diinstal? Kagak butuh. Ngeberatin prosesor aja. Lagian KDE3 bisa menggunakan sqlite, kan? Kenapa ini KDE4 mengharuskan mysql? Tapi rupanya, servis akonadi[2] dan nepomuk[3] membutuhkan keberadaan mysql-server. Menariknya, dua servis itu adalah hal selanjutnya yang saya tidak suka. Tapi yah, mau gimana lagi, yang berbicara adalah "apt." Kalau mysql saya hapus, maka akonadi terhapus, dan itu artinya seluruh pake KDE4 menjadi orphan. Akan muncul warning tiap kali melakukan instalas...

Apa itu "default?"

Pernah dalam sebuah kuliah Astronomi Komputasi, di tahun ke-3/4 kuliah, dosen saya berkata, "jangan asal bilang default tanpa tahu makna dari default itu apa. Coba, siapa yang bisa menjawab, apa itu default?" Semua diam. *** Saya mengenal istilah default pertama kali saat untuk pertama kalinya diperkenalkan pada dunia Internet oleh seorang sahabat (sekuliah, sejurusan, seangkatan, wisuda bareng, pokoknya soulmate lah). Dan kemudian lebih banyak bergaul dengan istilah itu saat sahabat yang lain (sekuliah, sekelas waktu TPB, beda jurusan, dia guru saya) mempertontonkan kebolehannya menguasai komputer. Pergaulan dengan istilah2 sejenis semakin intens setelah saya lebih tertarik untuk ngoprek komputer daripada mempelajari fisika. Ah, tapi tetep aja blo'on. Salah satu bagian yang saya ingat adalah pada konfigurasi GRUB . Dari semua OS/kernel yang bisa dipilih untuk diboot, ada satu yang harus diberi label default. Yang default ini tidak harus yang paling atas. Tapi yang past...

Menyatukan dua atau lebih file multimedia

Seorang teman kerja bertanya bagaimana cara menyatukan dua (atau lebih) file multimedia. Dulu, saya inget, saya pernah nunjukkin caranya. Tapi berhubung waktu itu saya tidak memberi contekan perintahnya seperti apa, bisa dimaklumi kalau sekarang beliau lupa, hihihi... Caranya adalah seperti di bawah ini. Saya ambil yang sederhana aja, yaitu tanpa perubahan format. Kalau mau transcoding codec dan format container, silahkan baca sajalah manualnya. Sebetulnya cara ini bisa ditemukan di situs2 lain, kalau mau nyari, dan mencari dengan kata kunci yang tepat. Program yang saya pakai adalah MEncoder dari MPlayer , dijalankan di atas Debian Lenny (versi utk OS lain juga ada). Misal kita punya dua file dari VCD. Ekstensinya biasanya DAT, codec MPEG1, dalam format MPEG. Perintah untuk menyatukan dua file itu (avseq{1,2}.dat menjadi file_output.mpg) adalah: mencoder -oac copy -ovc copy -of mpeg -o file_output.mpg avseq1.dat avseq2.dat Kalau kedua file sumber dalam format AVI, maka opsi -of tida...

Instal cPanel di belakang proxy

Harus instal cPanel di server dengan benwit internasional yg dicekik habis. Ini bisa ngabisin puluhan hari nampaknya hanya untuk instalasi saja. Itupun belum tentu berhasil dengan baik, soalnya kompilasi ulang apache+php serta hal lain juga mengharuskan download beberapa paket dari mirror resmi cPanel. Tapi rupanya masih diberi keberuntungan. Ada teman yang membolehkan menggunakan transparent proxy yang bisa diakses dengan benwit ~100mbps lewat jaringan IIX. Dan server proxy ini punya benwit internasional yg cukup bisa diandalkan. Sayang, skrip instalasi cPanel tidak mengindahkan setting environment http_proxy. Jadi meski kita udah eksport env tersebut, bahkan sudah menulis konfigurasi utk wget dan curl, tetep aja proses download tidak melewati server proxy. Mungkin ada yg kurang? Akhirnya, hasil coba2, saya paksa sajalah supaya semua request ke port 80 dilarikan ke server proxy di level firewall (firewall atau routing? gak tau deh). Saya pake rule ini: iptables -t nat -A OUTPUT -d ! I...

Lock Nforce ethernet alias

Sip, dibaca aja sendiri ya. Artikel: " How to fix invalid MAC address on Nforce MCP network controller ".

Membuat sistem sekunder sebagai rescue-system

Lebih dari setahun yang lalu saya buat artikel ini lalu saya kirimkan ke InfoLinux , tentu dengan harapan akan dimuat dan saya dapet honor, hehe. Tapi sampai saat ini tidak ada berita apakah artikel ini akan dimuat atau tidak. Yah, berhubung saya punya media publikasi sendiri (tapi ga ada duitnya), disertai dengan niat baik berbagi pengalaman dan ilmu, dan kekosongan ide dalam menulis blog, maka saya post aja artikel ini di sini. Ada sedikit kalimat yg diubah (dikiiit banget) supaya tulisan ini tidak terlalu terkesan formal. Tulisan ini murni dari kepala saya sendiri. Jadi kalau ada tulisan yg mirip, saya yakin itu karena kebetulan. === Membuat sistem sekunder sebagai rescue-system Dudi Indrasetiadi Memiliki server yang disimpan di datacenter milik sendiri --di dalam negeri-- atau setidaknya dekat dan mudah dijangkau, memang lebih nyaman jika kita melihat dari sisi kemudahan pengelolaan. Tidak ada masalah jika suatu saat harus melakukan instalasi ulang atau boot ke single-user mode unt...

Menggunakan link selain default gateway untuk SMTP

Gak yakin juga apakah trik di dalam tulisan ini bisa disebut port based routing atau bukan. Tapi yang pasti bisa memenuhi kebutuhan untuk melarikan arah route jika ingin mengirimkan paket ke port tertentu. Kasus: saya punya server yang selain berfungsi sebagai webserver dan mail server. Ada sekitar 200 akun email di server itu, yang tiap harinya maenan milis terus menerus. Bandwidth IIX sih berlimpah, permasalahannya adalah bandwidth internasional yang bener2 irit (mahalll). Masalah akses web memang lancar, karena pengakses hanya dari Indonesia. Tapi kan penyedia milis paling terkenal adalah raksasa yahoogroups dan googlegroups. Jelas bw internasional di sini yang berperan. Solusi: akhirnya saya putuskan menambah link untuk server itu dari ISP lain yang menyediakan bw int'l yang lebih murah. Nah, saya ingin agar link baru dengan bw int'l yang lumayan besar ini hanya digunakan untuk pengiriman email. Kalau soal nerima email mah gampang, tinggal ganti record MX dari domain yg say...

Skrip sederhana mendaftar netblok IIX

Untuk keperluan pemisahan rute maupun pembatasan lebar pita... Ya, istilah "splitting route" dan "bandwidth shaping" atau "rate limiting" memang lebih popular. Saya cuma ingin menunjukkan kalau saya mencoba menggunakan bahasa Indonesia. Nya kitu lah pokona mah. Pemisahan rute maupun pembatasan lebar pita koneksi Internet antara jalur IIX dan internasional adalah praktek yang sangat popular di Indonesia. Saya juga gak tahu kenapa. Mungkin karena bw IIX dari ISP yang satu sangat murah, sementara bw intl yg murah justru dari ISP lain, sehingga kita memutuskan untuk menyewa 2 uplink berbeda untuk IIX dan intl. Mungkin juga karena hal2 lain yang sifatnya spesifik individual (or communital? *bahasa mana eta?*). Atau memang standarnya begitu? Mengambil daftar blok ip IIX dari http://lg.mohonmaaf.com/ sesuai saran pak Harijanto memang sangat baik. Tapi pasti jadi pusing sendiri karena hasilnya adalah sekitar 4500 baris daftar netblok yang beberapa diantaranya ...

Transfer file komputer-ponsel dengan kdebluetooth di Debian Etch

Sebetulnya ini pengalaman lama, tapi baru saya post di sini karena pengen nulis blog tapi engga ada ide mau nulis apa. Sudah ditulis juga di blog di kantor, tapi pastinya engga bisa dibaca oleh masyarakat luas. Ini juga bukan pengetahuan baru, saya juga mengambil rujukan dari tulisan orang lain hasil googling. Ini berhasil di komputer saya aja, gak ada jaminan akan berhasil di komputer orang lain. Berikut adalah catatan dari pengalamanku mengambil file dari ponsel baru milik Endrik lewat koneksi bluetooth . Waktu itu ponselnya baru, tapi sekarang sudah raib, kecopetan. Coba kalau masih ada, mau dah gw beli seratus rebu. Berikut adalah beberapa hal yang diperlukan untuk mengoneksikan Debian Etch dengan ponsel yang mendukung bluetooth: Debian Etch Modul bluetooth dari kernel (sudah ada di kernel Etch) Bluetooth dongle , dan port USB di komputer anda Ponsel yang punya koneksi bluetooth Desktop KDE (silahkan merujuk ke dokumen lain jika menggunakan desktop selain KDE) Instalasi peranti lu...

Flush/purge/clear/bersihkan RAM secara manual di linux

Pagi2 gini seorang teman kerja yang suka sekali dengan otak yang kebalik nanya tentang keinginannya untuk membersihkan memori di system linuxnya tapi tanpa proses reboot. Ya eyya laaah, makanya pake linux supaya engga terlalu sering reboot kalau ada perubahan pada sistem, kalau terlalu suka dengan reboot mah pake winblows aja. Saya inget ketika dulu sering maen game arcade yang diemulasi dengan xmame di PC dengan memori yang hanya 128MB. Saya sering merhatiin, kalau game tersebut (biasanya game besar seperti Metal Slug atau Samurai Shodown dan The Last Blade) sudah diload ke RAM, maka RAM akan segera menjadi penuh akibat data dari game serta program lain, bahkan sampai terjadi swapping memory. Ketika game kita matikan (close, kill, you name them), ternyata memory usage langsung turun. Yang tersisa pastinya adalah data dari program lain yang masih berjalan. Tapi masak sih kita harus maen game dulu untuk flushing RAM? Ternyata salahsatu solusinya emang melakukan sesuatu yang mirip deng...

Opsi encoding dengan mencoder

Catetan, biar engga lupa. Kalau inget lagi entar ditambah. Opsi Xvid Opsi xvid-encoding yang biasa saya gunakan kalau ripping video: -xvidencopts vhq=4:bvhq=1:chroma_me:keyframe_boost=13:quant_type=mpeg:noqpel:nogmc:turbo:pass={1,2:bitrate=-$TARGETSIZE} Kalau encoding film kartun, tambahkan opsi cartoon , simpen di depan atau belakang juga boleh. Opsi lame Kalau ripping to-avi sekaligus encoding audio, codec yang dipake untuk audio adalah mp3lame. Ini opsinya: -lameopts abr:mode=1:br=$BITRATE Video filter (postprocess juga masuk sini) Opsi di sini sih gak selalu semua dipake, disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau video tidak akan diresize, ya opsi scale dibuang. Kalau denoiser tidak diperlukan, hqdn3d dibuang aja. Tergantung video asli dan hasil yang diinginkan. -vf hqdn3d,pp=ci/lb,crop=w:h:x:y,scale=w:h:0:0:0:0.75

Membuat USB-flash boot

Anda pengguna PC? Suka bereksperimen dengan multiple OS dalam 1 PC? Jika ya, pasti tidak aneh dengan keluhan2 seperti "Di PC saya muncul 'disk boot error'", atau "waaah, bootloadernya ketimpa", bisa juga "grub-nya hilang euy". Keluhan seperti itu tidak hanya muncul dari para pengguna yang masih pemula, tapi juga para ahli dan hacker2 ternama. Tentu, yang terakhir disebutkan biasanya punya cara untuk mengatasi hal itu, tapi bukan berarti mereka tidak pernah mengalami masalah itu. Sejak awal saya berkenalan dengan OS GNU/Linux, saat instalasi pastilah ditawari untuk membuat 'disket boot'. Yang akan berguna jika PC anda tidak bisa memboot lewat harddrive, atau saat masalah2 di atas terjadi. Intinya adalah: 'kita harus punya media (backup) yang bisa dipakai untuk mem-boot PC'. Sebelumnya saya sangat mengandalkan livecd seperti Knoppix dan Kanotix untuk bisa mengembalikan bootloader yang hilang. Sayang hal ini kurang praktis karena mau t...