::2009/08/28::

Lay down my arms and give up the fight

Huahhhh .... Senangnya bisa makan dengan normal lagi. Yaaah, meskipun baru Magrib ini aku bisa makan dengan normal seperti pada kondisi normal. Halah, belepotan! Mudah2an aku bisa menghabiskan setengah porsi nasi yang akan kubeli dari warung sahur nanti. Aku udah bosen gak bisa makan kayak orang kebanyakan yang lagi sakit. Seminggu sudah perutku ini gak bisa nerima makanan dengan normal. "Gejala psikosomatis" katanya, teuing ah.

Kepalaku belum dingin. Engga, kelakuan seperti itu tidak bisa dilupakan selamanya. Harus ada kompensasi yang setimpal jika ingin berdamai. Orang miskin bukan berarti bisa dipermainkan, kan? Apalagi itu dilakukan tanpa penyesalan sedikitpun. Bangga? Heuheu, sebaiknya kubuang pikiran buruk kayak gitu.

Tapi yahhh, selera makanku udah sembuh sekarang, sebentar lagi semuanya akan sembuh. Semuanya akan baik2 saja. Dan terimakasih buat seseorang yang telah membuka mataku untuk melihat kejadian ini dari sisi yang beda. Dari mukanya sih gak keliatan dia bisa sebijak itu (salut). Sisi yang membuatku merasa sangat beruntung.

So, it's time to lay down my arms and give up the worthless fight. There were never a winner in every war, and never will be. I've seen the same situation before, in fact, I was the innocent victim. And believe me, nothing good ever came from that kind of event. I have my own life, and it's too precious to be ruined just because of that. And, perhaps, I still want to believe.

I'll just wait and see.

::2009/08/27::

We all look up at the same stars

"One of life's little joys is explaining the stars to the wondering minds of children."
Donald's Big Imagination (Carl Barks, 1957)


I'm not a good astronomer, I was never an astronomer. But I love star gazing and pretending to have some expertise on the stars and every other beautiful heavenly things floating on the skies above. And will always do.

Yes, it was full of joy. It was simply a very good time. I'm really going to miss it, so much.

::2009/08/26::

Ramadhan berat

Tiga Ramadhan terkini memang dan akan berat. Aku harus menghadapi cobaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bukan cobaan fisik yang akan membatalkan puasanya. Karena, rasanya, sangat2 sulit untuk membuatku batal puasa lewat cobaan fisik. Sakit dan seharian nunggu bis di Lebak Bulus di bawah sengatan matahari tidak membuatku batal puasa. Padahal banyak kulihat bapak2 dan pemuda2 berbadan kekar di sekitarku makan dan minum dengan santai. Yah, untuk hal ini aku bisa sedikit bangga.

Sebenernya sih maklum, bukan bangga. Soalnya udah biasa kelaparan :p

Tapi sejak dua tahun terakhir cobaannya beda. Cobaannya lebih menohok ke hati. Ke perasaan. Diselingkuhi dan dijadikan selingkuhan menyakiti perasaan kan? Hehe, takut salah.

Tapi aku yakin Tuhan memberikan cobaan pada umatnya yang memang akan mampu menghadapi cobaan tersebut. Aku hanya harus sabar dan meyakini kalau Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik, yang paling baik, untuk setiap umatnya. Dan tentunya, berdoa supaya aku bisa menjadi orang yang lebih baik. Dalam segala hal, termasuk rezeki, hihihi ....

Tapi memang harus diakui, yg kali ini adalah yang terberat dari semua yang pernah terjadi.

Semoga aku bisa menghadapinya. Amin.

::2009/08/24::

Aku harus tegas

Kapan ya dia bisa lebih memperhatikan dan menganggap serius omonganku?

Mungkin memang pada kenyataannya aku ini inferior. Aku tidak terkenal. Aku tidak berprestasi. Aku anak orang miskin. Aku tidak berbakat hidup di kota. Tidak berbakat untuk bermewah-mewah seperti orang2 di sekitarnya.

Tapi tidakkah dia pikir kalau aku juga manusia? Yang punya keinginan dan kebebasannya sendiri. Yang selama ini berhasil hidup dari hasil keringatnya sendiri. Yang menginginkan kehidupan harmonis atas dasar kasih sayang, saling mengerti dan saling menghormati.

Dia bilang ingin memberi yang terbaik. Dia bilang ingin menjembatani perbedaan. Dia bahkan bilang kalau omongan di depan dan di belakang berbeda artinya selingkuh. Tapi kenapa yang dia lakukan pada akhirnya meruntuhkan omongannya sendiri?

Dia tahu, jika aku mengambil sikap tegas, maka sebenarnya akulah yang merugi. Banyak orang lain yang menunggu untuk sekedar menjadi pengganti. Dan mungkin merekapun nantinya ditinggal pergi, karena hidup mereka tak mungkin bisa dianggap berarti.

Tapi sungguh, aku siap mengambil keputusan apapun. Kapanpun. Dan aku takkan menyesal meski dengan semua apa yang telah kita lewati. Karena jika tidak, maka aku menghinakan diriku sendiri dengan mengingkari apa yang telah aku nyatakan.

Aku sudah mulai muak memberi tahu. Busa mulutku sudah habis kebanyakan ngomong.



Ya, sepertinya aku akan ganti nomor selular, dengan operator lain.

IM3 gue dodol!

Iya, nomer IM3 gue dodolllll!!!

Masak hari ini cuman bisa dipake buat nelpon ke nomor XL? Ke sesama Indosat gak bisa, ke operator lain selain XL juga gak bisa. Lucunya, ditelpon mah bisa. Ngaco pisaaaaaaaaan ...!

Sebenernya gejalanya udah mulai keliatan sekitar bulan Februari/Maret 2009. Nomor gue itu gak bisa dipake nelpon sesama IM3 kalau nomor yg dituju diputar dengan format internasional (pake prefix +62). Sebelum itu, rasanya gak pernah terjadi yg kayak gitu. Nelpon ke mana2 lancar. Tapi berhubung masih ada solusi, dengan menghapus +62 dari nomor IM3 yg dihubungi, rasanya masalah ini bisa ditoleransi. Dan masalah ini juga cuman terjadi ke 1 nomor tujuan, jadi gak terlalu kerasa.

Tapi sejak bulan puasa ini presentase keberhasilan menghubungi nomor lain (baik itu Indosat maupun operator lain) sangat minim. Dari sekitar 20-30 kali percobaan menghubungi 2-6 buah nomor yang berlainan operator, hanya 1 kali panggilan yang berhasil dilakukan. Ngerti lah siapa yg gue hubungi sampe gue segigih itu.

Tapi ditelpon bisa! Kayaknya bukan masalah (global) jaringan Indosat deh. Secara sms juga lancar2 aja. Nelpon ke 300 (call center Indosat) juga tokcer dan lancar jaya. Dan yang paling lucu, nomor yang biasanya berhasil dihubungi (kalau sedang beruntung) adalah nomor non-Indosat.

Hhhh ..., lapor ke Indosat deh entar. Atau mending ganti operator?

::2009/08/18::

Karena kita cenderung mengulang cerita

"Iya, Ayah, aku udah tau cerita itu."

Akupun berhenti bercerita. Selain karena reaksinya, juga karena bis kota ini suaranya bising. Aku yakin ceritaku tadi tidak didengarnya karena kebisingan ini.

Aku tak pernah bosan bercerita padanya, tentang bagaimana dia datang ke dalam kehidupan kami.

Dua puluh tahun pertama pernikahanku dengan ibunya terlewati tanpa kehadiran seorang anak. Ratusan dokter kami datangi dan ribuan macam terapi sudah kami coba. Namun ibunya baru mulai mengandung saat usianya mencapai 40.

Setelah seorang dokter spesialis kandungan dari Jerman menyarankan istriku untuk mengonsumsi sejenis serum yang harganya sangat mahal.

Setelah aku berziarah ke pemakaman keluarga dan bertemu dengan seorang tua misterius yang meramalkan bahwa tak lama lagi kami akan punya anak.

Setelah aku mulai putus asa karena usiaku yang sudah mencapai 50. Ya, aku dan istriku terpaut usia sepuluh tahun. Dan istriku sudah terlalu tua untuk mengandung.

Hampir di setiap kesempatan aku menceritakan hal ini. Kalau bukan aku, ya bagian istriku yang menceritakan hal yang sama. Aku yakin anakku sudah bosan karena cerita berulang ini. Mungkin juga dia tidak pernah mengacuhkan. Atau mungkin dia mulai bertanya, kenapa orang tuanya begitu gemar akan cerita ini.

Yang aku tahu, terlalu banyak hal yang menyebabkan cerita itu terjadi. Terlalu banyak hal yang terjadi akibat kejadian dalam cerita itu. Dan bahkan sampai sekarang, aku tak pernah bisa mengetahui semuanya. Mungkin dengan mengulang cerita, sedikit demi sedikit kami akan mengungkap semua sisi dari cerita itu.

Ya, sebenarnya itu yang aku harapkan.

***

Sambil berdiri aku berbisik, "kita turun di sini, nak, rumah kakekmu sudah dekat."


Terinspirasi dari tulisan http://katumbiri.multiply.com/journal/item/484

::2009/08/17::

Setia itu susah

Aduh, mau setia kok susah banget ya? Adaaa aja godaannya.

Ya Tuhan, tolonglah hambaMu ini.

::2009/08/11::

Ratu sejagat atau ratu ***?

Kenapa, ya, melihat2 galeri peserta Miss Universe 2009 kok malah jadi inget situs A****4Y**? Kalo engga, ya situs 88*****e dan semacamnya.

*ah, pikiranku sedang kacau*