Lay down my arms and give up the fight
Huahhhh .... Senangnya bisa makan dengan normal lagi. Yaaah, meskipun baru Magrib ini aku bisa makan dengan normal seperti pada kondisi normal. Halah, belepotan! Mudah2an aku bisa menghabiskan setengah porsi nasi yang akan kubeli dari warung sahur nanti. Aku udah bosen gak bisa makan kayak orang kebanyakan yang lagi sakit. Seminggu sudah perutku ini gak bisa nerima makanan dengan normal. "Gejala psikosomatis" katanya, teuing ah.
Kepalaku belum dingin. Engga, kelakuan seperti itu tidak bisa dilupakan selamanya. Harus ada kompensasi yang setimpal jika ingin berdamai. Orang miskin bukan berarti bisa dipermainkan, kan? Apalagi itu dilakukan tanpa penyesalan sedikitpun. Bangga? Heuheu, sebaiknya kubuang pikiran buruk kayak gitu.
Tapi yahhh, selera makanku udah sembuh sekarang, sebentar lagi semuanya akan sembuh. Semuanya akan baik2 saja. Dan terimakasih buat seseorang yang telah membuka mataku untuk melihat kejadian ini dari sisi yang beda. Dari mukanya sih gak keliatan dia bisa sebijak itu (salut). Sisi yang membuatku merasa sangat beruntung.
So, it's time to lay down my arms and give up the worthless fight. There were never a winner in every war, and never will be. I've seen the same situation before, in fact, I was the innocent victim. And believe me, nothing good ever came from that kind of event. I have my own life, and it's too precious to be ruined just because of that. And, perhaps, I still want to believe.
I'll just wait and see.

