2013/08/05

AAC di Galaxy Fame

3 comments:
"Papah, file AAC gak bisa dimaenin nih!" si mamah komplen.

Seingat saya, AAC atau M4A bisa dimainkan dengan baik di hampir semua gadget Samsung yang menggunakan OS Android. Saya periksa di feature sheet Samsung Galaxy Fame juga mengatakan bahwa dia mendukung format AAC bahkan AAC+.

Akhirnya saya pinjam dulu itu henpon, lalu saya coba2 nyetel beberapa file audio. Nyatanya hanya sebagian file AAC yang tidak bisa dimainkan. Jadi ada yang bisa dimainkan dan ada juga yang tidak. Bahkan format output dari audio recorder defaultnya adalah M4A (yang merupakan sinonim dari AAC).

Saya coba sedot file2 AAC yang bisa dimainkan dan tidak bisa dimainkan ke PC. Saya periksa dengan perintah 'file' dan tampaklah bedanya. File yang bisa dimainkan adalah file AAC yang _tidak berisi_ tag ID3. Sementara file yang berisi tag ID3 (ada title, artist, dll) tidak bisa dimainkan. (Catatan: player yg digunakan adalah player default).

$ file *.aac
bisa.aac: MPEG ADTS, AAC, v4 LC, 44.1 kHz, stereo
gabisa.aac: Audio file with ID3 version 2.3.0, contains: MPEG ADTS, AAC, v4 LC, 44.1 kHz, stereo


Jadinya saya gunakanlah perintah 'id3v2 -D *.aac' untuk menghapus ID3 yang yang ada di file2 tersebut. Dan hasilnya adalah semua file tsb bisa dimainkan.

"Nih, mah, udah bisa disetel sekarang."

2011/11/04

Cuman seminggu

7 comments:
... sisa masa lajang saya. Insya Allah, Jumat depan status saya berubah. Dunia dan kehidupan baru telah membentang di depan. Mohon doa dan restunya dari semua.

2011/09/08

Decentralise

No comments:
27 August 2011: Jakarta - Tasikmalaya, over 13 hours!

5 September 2011: Tasikmalaya - Bandung, 12 hours!!!

Seriously! Please ...

2011/08/19

Pemerintah stop terima PNS

1 comment:
Baca berita ini emang bikin sedih: http://finance.detik.com/comment/2011/08/19/121827/1706696/4/mulai-1-september-pemerintah-stop-terima-pns-baru

Secara saya pengen jadi PNS. Tapi sejak bulan depan sampai 2 tahun ke depan katanya tidak akan ada penerimaan PNS. Padahal tahun 2013 nanti umur saya sudah semakin bangkotan.

HUAAAAAAAAA ...

2011/06/24

Teriakan anak kecil? Hanya jika saya sudah punya anak

No comments:
Science Confirms It: Whining Is The Most Annoying Sound Ever

... childish whining is more distracting than the screech of a high-pitched table saw, according to a new study. To test people's tolerance for various sounds, scientists asked them to do math problems in silence, and then while listening to talking, “motherese” (aka baby talk), whining and machine noise.


Bethulllll! Saya bukan cuma percaya, tapi yakin 100,02 %! Jaman SMA saya sering belajar dan atau mengerjakan soal2 Fisika sambil mendengarkan musik keras yang disiarkan oleh radio lokal ataupun dari Bandung. Dan kenyataannya, saya bisa mengerjakan soal2 itu dengan baik. Bahkan menjadi lebih bersemangat.

Tapi sekitar sebelas tahun yang lalu, saya tinggal di rumah seorang kerabat, untuk meminimalisasi pengeluaran uang saat kuliah. Dan setiap hari Minggu, kerabat saya tersebut dikunjungi oleh anak serta cucunya. Cucunya belumlah berumur 3 tahun. Dan teriakan pertamanya yang saya dengar pagi hari itu telah menghabiskan semangat saya untuk belajar selama sehari penuh.

Jangankan bisa bersantai atau beristirahat (tidur), sedang belajar aja terganggu! Eh, ada hubungannya apa engga sih? (^^);

Tapi yah, itu sebabnya ketika akhirnya saya mencari tempat kost, saya pastikan tidak ada anak kecil yang berteriak2 di dalam rumah itu. Sayang, tempat kost yang pertama gagal total! Tiap malam, anak kecil pemilik kost menangis dengan keras. Padahal kamar mereka bersebelahan dengan kamar saya, dan hanya dibatasi dinding kayu, atau hanya triplek, saya sudah lupa. Pernah sekali waktu saya terpaksa humandeuar dengan keras karena merasa terganggu. Ayah si anak terdengar panik mendiamkan anaknya. :D

Jadi? Biarlah nanti anak saya saja yang mengganggu saya dengan rengekan dan teriakannya. Kalau anak orang lain mah ... mending sayah kabur ajahhhh ...

2011/05/25

Linux outside

No comments:
Interesting post by Glyn Moody: http://www.h-online.com/open/features/The-naming-of-parts-Time-for-Linux-Inside-1235154.html.

"The problem, then, is the fact that Linux can be powering more and more of the digital devices that fill our lives and also be behind the international success that is Android, and yet few outside the computer world are aware of the connection."


Ah ... some (most) users are just do not care if they use free or proprietary products. They only need to spend their money just to be dubbed cool by their friends.

2011/05/16

Goodbye Smallville

No comments:
Goodbye Smallville. Your journey ends last week end. It's sad, but it's how the way it should be. Thank you for inspiring me for the last decade. The Superman spirit will never die.

*sedih*

2011/04/07

Iceweasel 4.0

No comments:
Pengen instal firefox 4.0. Tapi saya pake Debian stable. Tau sendiri lah, ya, Debian stable gak akan menyertakan versi yg lebih baru dari suatu aplikasi jika versi baru itu dirilis setelah waktu rilis Debian stable yg dimaksud. Yah, hasil googling menunjukkan banyak artikel tentang versi aplikasi2 di Debian stable yang kolot.

Pengen instal firefox 4.0 di Debian stable, tapi malah nemu link utk instal firefox 4.0 di Ubuntu lucid.[1] Kebetulan lucid dan squeeze (Debian stable saat ini) lumayan mirip. Jadi saya ikuti aja tahap2 instalasinya ... dan kecewa.

Firefox-nya, sih, normal. Tapi ngeselin banget waktu melakukan pencarian lewat kotak dialog di kanan atas, url google-nya adalah seperti ini:

www.google.com...&client=ubuntu...

Iiihhhh.... langsung gatel2. Kalau ini saya pake terus, maka pencarian dan kamuflase pencarian TrackMeNot[2] akan ter-log di google dengan ciri "ubuntu."

Saya kan gak pake ubuntu.

Langsung deh apt-get --purge remove firefox firefox-globalmenu.

Dan akhirnya nemu cara nginstal untuk/di Debian dengan benar.[3] Sip deh. Lega deh.


[1] http://www.howtoforge.com/installing-firefox-4.0-deb-package-on-ubuntu-10.10
[2] https://addons.mozilla.org/en-us/firefox/addon/trackmenot/
[3] http://mozilla.debian.net/

2011/03/31

Lambat

No comments:
Semua lambat ...

Ikut jadi keong deh, "meong...!"

Itu mah kucing.

2011/03/14

Tidak setiap hari

No comments:


Tidak tiap hari awan di atas Jakarta berpenampakan seperti itu di sore hari. Dan tidak tiap terjadi penampakan seperti itu saya sedang pegang kamera (pinjaman). Maka terjadilah ....

2011/02/04

Ubah saja variabelnya

3 comments:
Jadi inget sama kejadian beberapa tahun lalu, di sebuah gedung yang mirip bioskop di tengah2 kampus yang lokasinya deket sama kebun binatang. Saat itu sedang berlangsung kuliah yang berjudul Fisika Matematika.

Karena melihat sebagian besar mahasiswa mulai kebingungan dan bosan dengan materi kuliah, yang diindikasikan dengan pertambahan kadar bengong pada wajah mereka dibarengin dengan heuay (menguap yang lebar), Pak Dosen memberikan sebuah cerita lucu.

"Kita sering denger bahwa, katanya, tingkat kecerdasan seseorang berbanding terbalik dengan tampang," beliau berkata sambil senyam-senyum.

Kami yang mendengarkan hanya bisa tersenyum getir. Itu sebuah fakta yang buktinya bisa dilihat di kehidupan sehari-hari. Yah, saya tidak akan menjelaskan lebih jauh karena orang2 dengan tingkat tampang yg "rendah" pasti sudah lebih mengerti, karena bahkan orang2 dengan tingkat tampang yg "tinggi" juga sudah mengerti.

"Itu benar," Pak Dosen melanjutkan. "Tapi apakah kita akan menerimanya begitu saja?"

Mahasiswa yang tadinya cuma senyum sekarang mulai nyengir.

"Khusus buat kita2, gampang," kata Pak Dosen lagi. "Kita buat saja koefisien yang besar.

"Pehatikan ini, misal tampang diwakili dengan T dan kecerdasan atau kepintaran diwakili dengan P, maka nilai tampang adalah T = C/P, di mana C adalah sebuah koefisien.

"Nah, dengan nilai C yang besar, maka perubahan T akibat peningkatan P tidak akan terlalu terasa. Jadi kita bukan cuma bisa pinter, tapi juga ganteng!"

Para mahasiswa pun mengangguk tanda setuju. Beberapa tertawa cukup lebar. Tapi kalau dilihat2, mereka2 yang tertawa ini wajahnya sama sekali tidak ganteng. Ya, bisa dipastikan kalau saya tidak ikut tertawa (saya cuma tepuk tangan dan mencatat dengan cermat).

Analogis sekali dengan kenyataan yang terjadi di negara kita saat ini. Walaupun tujuan, motif dan efeknya jelas beda.

Untuk menunjukkan bukti bahwa kemiskinan berkurang, maka standar kemiskinan pun diturunkan. Orang dengan penghasilan tujuh ribu rupiah dikatakan orang mampu alias tidak miskin.

Di Tasik, di kampung, harga mie bakso kelas menengah satu porsi saja Rp 7000,00. Cukupkah itu untuk makan sekeluarga untuk satu hari? Bisakah semangkok mie bakso itu menutupi segala resiko baik itu listrik, air, sandang dan hal2 lainnya? Menurut saya jelas tidak. Apalagi di kota yang lebih besar seperti Bandung atau Jakarta.

Jadi, bijaksanakah pengubahan variabel standar kemiskinan itu?