2011/02/04

Ubah saja variabelnya

Jadi inget sama kejadian beberapa tahun lalu, di sebuah gedung yang mirip bioskop di tengah2 kampus yang lokasinya deket sama kebun binatang. Saat itu sedang berlangsung kuliah yang berjudul Fisika Matematika.

Karena melihat sebagian besar mahasiswa mulai kebingungan dan bosan dengan materi kuliah, yang diindikasikan dengan pertambahan kadar bengong pada wajah mereka dibarengin dengan heuay (menguap yang lebar), Pak Dosen memberikan sebuah cerita lucu.

"Kita sering denger bahwa, katanya, tingkat kecerdasan seseorang berbanding terbalik dengan tampang," beliau berkata sambil senyam-senyum.

Kami yang mendengarkan hanya bisa tersenyum getir. Itu sebuah fakta yang buktinya bisa dilihat di kehidupan sehari-hari. Yah, saya tidak akan menjelaskan lebih jauh karena orang2 dengan tingkat tampang yg "rendah" pasti sudah lebih mengerti, karena bahkan orang2 dengan tingkat tampang yg "tinggi" juga sudah mengerti.

"Itu benar," Pak Dosen melanjutkan. "Tapi apakah kita akan menerimanya begitu saja?"

Mahasiswa yang tadinya cuma senyum sekarang mulai nyengir.

"Khusus buat kita2, gampang," kata Pak Dosen lagi. "Kita buat saja koefisien yang besar.

"Pehatikan ini, misal tampang diwakili dengan T dan kecerdasan atau kepintaran diwakili dengan P, maka nilai tampang adalah T = C/P, di mana C adalah sebuah koefisien.

"Nah, dengan nilai C yang besar, maka perubahan T akibat peningkatan P tidak akan terlalu terasa. Jadi kita bukan cuma bisa pinter, tapi juga ganteng!"

Para mahasiswa pun mengangguk tanda setuju. Beberapa tertawa cukup lebar. Tapi kalau dilihat2, mereka2 yang tertawa ini wajahnya sama sekali tidak ganteng. Ya, bisa dipastikan kalau saya tidak ikut tertawa (saya cuma tepuk tangan dan mencatat dengan cermat).

Analogis sekali dengan kenyataan yang terjadi di negara kita saat ini. Walaupun tujuan, motif dan efeknya jelas beda.

Untuk menunjukkan bukti bahwa kemiskinan berkurang, maka standar kemiskinan pun diturunkan. Orang dengan penghasilan tujuh ribu rupiah dikatakan orang mampu alias tidak miskin.

Di Tasik, di kampung, harga mie bakso kelas menengah satu porsi saja Rp 7000,00. Cukupkah itu untuk makan sekeluarga untuk satu hari? Bisakah semangkok mie bakso itu menutupi segala resiko baik itu listrik, air, sandang dan hal2 lainnya? Menurut saya jelas tidak. Apalagi di kota yang lebih besar seperti Bandung atau Jakarta.

Jadi, bijaksanakah pengubahan variabel standar kemiskinan itu?