2010/02/24

KBBI untuk Stardict

Programer/hacker favorit saya baru2 ini berbagi file kamus dan tesaurus yang bersumber pada KBBI daring[1] untuk program stardict[2]. Jadi sekarang bisa liat2 kamus bahasa Indonesia (masih versi 3, sih) meskipun tidak sedang tersambung ke Internet.

Informasi ada di:
  • KBBI versi StarDict[3]
  • Tesaurus Bahasa Indonesia versi Stardict[4]



[1] http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/
[2] http://stardict.sf.net/
[3] http://steven.blogs.masterweb.net/2009/05/21/kbbi-versi-stardict/
[4] http://steven.blogs.masterweb.net/2010/02/24/tesaurus-bahasa-indonesia-versi-stardict/

2010/02/15

Benci vendor dalam negeri, ya?

Bener, ya? Gitu, ya?

Gak mau, ya, kalau orang Indonesia nyewa hosting, nyimpen server, atau sekedar manfaatin layanan gratisan buatan dalam negeri, ya?

Mungkin harusnya orang2 cuma punya blog buatan luar. Punya twitter. Punya facebook. Atau nyewa server dari datacenter di luar negeri. Gitu? Biar lalulintas Internet ke luar negeri semakin padat dan "orang2 tertentu" untung gede, gitu?

Dengan "aturan macam itu," semua orang bakal milih pake layanan dari luar negeri. Vendor lokal bakal ditinggalin. Biar kalau ada konten "nyeleneh," gak bakal kena bredel karena di luar jangakauan hukum Indonesia.

Kalau engga juga vendor lokal bakal pada bangkrut akibat harus nyensor konten yg pastinya butuh resource gede2an. Udah gitu dikomplen pelanggan lagi. Cape deh.

*ikutan kesel sama RPM konten*

2010/02/05

Pengetik yang pathetic

Hhhh ... umur sudah ampir kepala tiga, tapi kemampuan kalah sama anak SD!

44 words
You reached 230 points, so you achieved position 771 of 8316 on the ranking list
You type 288 characters per minute
You have 44 correct words and
you have 0 wrong words

Terimakasih, Supry.

2010/02/03

Scorpions bubar

Scorpions resmi bubar pada 24 Januari 2010. Event yang masih akan mereka lakukan hanya tour dan rilis album terakhir mereka "Sting In The Tail" Maret 2010.

Saya gak bisa nulis apa2. Selain mengingat2 masa lalu, ketika Wind Of Change adalah salahsatu lagu favorit saya waktu SD, You And I yang membuat saya kasuat2 dengan kisah2 masa SMP. Dan banyak lagu2 lain yang selalu saya dengarkan. Yang sepertinya, bagi saya, tak akan lekang dimakan waktu.

Saya tidak tahu terlalu banyak tentang mereka. Tapi lagu2 mereka selalu mengiang di telinga saya, seperti lagu2 Queen dan The Beatles. Vokal Klaus Meine, bagi saya, tidak kalah oleh Freddie Mercury. Mereka setingkat.

Saya rasa tidak berlebihan, dan tidak hiperbolis jika saya bilang Scorpions adalah band dikenal oleh semua orang di Indonesia. Saya waktu masih SD dan tinggal di kampung aja tahu. Gak juga, sih, anak balita pasti belum tahu, hehe.

Yah, semua yang dimulai pasti akan selalu berakhir. Mengingat lagu dan reputasi mereka bagus, meski band ini bubar, karya mereka akan selalu diingat.


[1] http://www.the-scorpions.com/english/news/news_item.asp?NewsID=100
[2] http://www.roadrunnerrecords.com/blabbermouth.net/news.aspx?mode=Article&newsitemID=130836

2010/02/02

Memperbaiki audio/video delay pada AVI

Paling kesel ... Yah, kesel lagi. Kenyataannya saya kesel, hehe, dan audio-video yang tidak sinkron jelas mengurangi kenikmatan nonton film. Berkurangnya gede banget. Kesel, kan?

Untunglah saya punya setidaknya dua alat yang membantu saya memperbaiki sinkronisasi file multimedia yang sudah terlanjur tidak sinkron. Tapi saya nyobanya di file avi saja, tidak tahu apakah alat dan cara yang sama berlaku untuk kontainer yang beda.

Dan perlu diperhatikan juga, asinkronisasi yang bisa diperbaiki dengan cara ini adalah asinkronisasi linier. Maksud saya, ketidaksinkronannya berlaku konstan sepanjang file. Gak tau deh istilahnya bener atau engga :D.

MEncoder[1]
Ini andalan saya dari sejak zaman kuda. Paket dari MPlayer ini benar2 sangat membantu. Menggunakannya juga tidak sulit. Bahkan dengan bantuan tombol (-) dan (+) saat nonton menggunakan MPlayer, saya bisa menyesuaikan audio-delay saat itu juga. Tapi perubahan ini tidak tersimpan dalam file.

Misalkan saya punya file multimedia yang audionya telat sekitar 200 milidetik (0,2 detik). Ini artinya audio lebih lambat, jadi saya harus mengubah posisi offset audio pada -0,2 detik. Maka satu baris perintah ini akan memperbaiki sinkronisasinya:

mencoder file_asli.avi -oac copy -ovc copy -audio-delay -0.2 -o file_hasil.avi

Untuk kasus audio yang lebih cepat, ubah saja angka delay menjadi positif. Informasi opsi bisa dibaca di manual mencoder.

Transcode's avisync[2]
Kadang hasil dari MEncoder kurang memuaskan, entah karena apa. Kalau ini terjadi, saya nyari pendapat ke-dua, menggunakan avisync.



Sedikit beda, di sini saya harus tahu telat/kecepetan audio dalam bentuk frame-count. Informasi frame-rate sebuah file avi bisa diketahui menggunakan perintah file atau dimainkan dulu dengan mplayer. Setelah frame-rate diketahui, jumlah delay frame bisa ditentukan. Harus rada ngitung dulu, sih, tapi relatif mudah.

Kasus yang sama, yaitu audio telat 200 milidetik pada file dengan frame-rate 23,976 fps (standar avi Xvid):

1. hitung frame-count: delay * frame-rate = (-0,2)(23,976) = -4,7952
2. jalankan perintah:

avisync -i file_asli.avi -o file_hasil.avi -n -4.7952

Informasi opsi bisa dibaca di manual avisync.

*idud yang kesel karena beberapa koleksi multimedianya tidak sinkron*


[1] http://www.mplayerhq.hu/
[2] http://www.transcoding.org/transcode

*) Logo MPlayer dan transcode adalah hak cipta masing2 projek.

2010/02/01

Negeri 5 Menara

"Udah baca buku ini, kang?" teman saya bertanya sambil menunjukkan sebuah buku dengan desain muka kecoklatan yang apik. Negeri 5 Menara. "Ini novel yang tidak tamat saya baca dalam satu hari, biasanya sih cepet. Mungkin karena pikiran saya mengawang2 saat membacanya. Saya dulu tinggal di asrama."

Tanpa basa-basi saya terima buku tersebut. Maksudnya meminjam. Tapi dalam hati saya memaki, "dasar kutu buku!"

***

Cerita dimulai dengan kebimbangan Alif, seorang siswa ranah Minang, yang bercita2 menjadi Habibie tapi diminta ibunya untuk belajar ilmu agama. Akhirnya ia menurut dan menjadi siswa di sebuah pesantren modern, Pondok Madani, di Jawa Timur.

Di sekolah barunya ini ia menemukan adat istiadat yang benar2 beda dengan sekolah umum. Ya bedalah, ini kan pesantren! Tapi pesantren modern yang mengharuskan siswanya menguasai bahasa Arab dan juga Inggris. Dengan aturan super ketat dan jadwal yang ultra padat. Perasaan kegiatan di ITB (cita2 asli Alif) tidak sepadat itu. Namun lambat laun ia beradaptasi dengan lingkungan barunya dan bahkan menikmati kehidupannya itu.

Cerita berlanjut dengan kehidupan sehari2 di pondok yang benar2 penuh warna (dalam hal positif) dan, bagi saya, tampaknya mengasyikkan. Banyak pesan dan hikmah yang bisa diambil dari kehidupan mereka sehari2. Sangat menghibur, membangkitkan semangat dan sarat makna.

Namun membaca buku ini secara teliti membuat saya sedikit bosan. Dari awal sampai pertengahan saya belum bisa menemukan apa konflik besar yang mungkin terjadi. Beberapa hal bahkan cukup mengganggu, saya tuliskan di bawah. Jadi saya terpaksa menggunakan jurus editor: yaitu membaca bagian awal dan yang pentingnya saja. Saya tahu banyak hal yang akan saya lewatkan. Tapi alhamdulilah, cerita seru saat memburu foto bareng Sarah, nonton bareng semifinal Piala Thomas 1988, Class Six Show, konflik ITB (konflik utamanya kayaknya ini, deh), serta peristiwa heroik bulis lail tidak terlewatkan.

Cerita yang cukup rinci tentang kedatangan Alif dan aktivitas sehari2 di PM serta terbentuknya Sahibul Menara sedikit mengingatkan saya pada cerita Harry Potter dan sahabat2nya. Sementara kehidupan di pesantren dan segala romantikanya (ustad yang ikut sepakbola, perawan di sarang santri, pertunjukan drama, dll) sangat mengingatkan saya pada Dongeng Enteng Ti Pasantren karya RAF. Bedanya, dalam Dongeng Enteng ada bagian kegiatan bulan Puasa sementara di Pondok Madani siswa sedang libur. Tapi kadar hiburannya masih kalah jauh kalau harus dibandingkan dengan Dongeng Enteng.

Kalimat yang kasual dan ringan pastinya membuat buku ini bisa diterima oleh siapapun. Dan tentunya, untuk orang2 yang pernah tinggal di pondok, pesantren atau asrama akan menemukan kenangan mereka dibangkitkan dengan indah. Secara keseluruhan, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca dan layak dikoleksi. Belum lagi, membeli buku ini sekaligus menyumbang untuk korban gempa Sumatera.

Dan hal2 yang mengganggu saya dalam buku ini antara lain:

Penjelasan tentang beberapa hal suka diulang2, seakan hal itu baru dikemukakan. Seperti tentang ustad yang ikut sepakbola, penjelasannya diulang setidaknya dua kali. Saya maklum kalau di tiap buku serial Trio Detektif penjelasan tentang markas mereka selalu diulang. Tapi ini, kan, dalam satu buku.

Di PM, ada jadwal tersendiri tentang penggunaan bahasa yg wajib ditaati. Bisa dimaklumi, kalau dalam buku, penggunaan Arab dan Indonesia dicampur. Atau Inggris dan Indonesia, itu pasti untuk keperluan pembaca, kan pembacanya orang Indonesia. Tapi beberapa kali tiga bahasa itu dicampur dalam sebuah kalimat langsung (kalimat di dalam tanda petik)! Otak dangkal saya tidak bisa memahami maksud yang terkandung di dalamnya.

Dan paling mengganggu adalah banyak sekali kata yang tidak baku (berdesakkan, mengkilat, dll) dan penempatan tanda baca yang tidak semestinya. Juga nama Atang yang pernah menjadi Tatang. Ini mungkin karena beberapa, sedikit, mungkin cuma satu :D, buku teks berbahasa asing yang saya baca selalu konsisten dengan aturan diksi, pemformatan dan tanda baca. Saya sedikit ragu untuk menyalahkan tim editor mengingat buku ini sudah cetakan ke-tiga. Hehe ...

Waktu empat tahun menjadi enam kelas (tingkat) juga cukup membingungkan. Saya pikir karena Alif (tokoh utama) lulusan SMP maka dia harus di PM selama empat tahun, tapi Sahibul Menara yang lain juga empat tahun. Padahal beberapa disebutkan pernah SMA. Mungkin pernah tapi tidak tamat, ya, jadi dianggap lulusan SMP. Lalu, kelas satu dan kelas enam dilewati selama masing2 satu tahun. Jadi kelas 2, 3, 4 dan 5 dilewati dua tahun saja? Hihi ...

Bonus: Bab empat buku ini berjudul Kampung di Atas Kabut, tapi di kalimat akhir saat Sahibul Menara menginggalkan PM sebutannya berubah menjadi "kampung di atas awan." Saya pikir ini karena saat itu para tokoh utama sudah berhasil membangun kampung2 mereka di atas awan impian masing2.

***

Judul: Negeri 5 Menara
Penulis: Ahmad Fuadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2009 (cetakan ke-3, Oktober 2009)

Gambar dari: http://www.negeri5menara.com