2009/12/10

Kawin dimodali mantan pacar

Ironis.

Eh, normal aja sih. Ceritanya begini:

Mantan pacar saya, yang "itu," tiba2 malam tadi ngirim SMS. Awalnya sih cuma nanya kabar, standar. Saya jawab sewajar mungkin. Walau, okelah, setiap melihat atau mendengar sesuatu tentang dia kepala saya seperti terbakar oleh amarah dan dendam™ (yang sewaktu2 pasti akan meledak). Apalagi kali ini dia sendiri yang menghubungi saya. Tapi saya usahakan untuk selalu menjaga perdamaian. Itulah saya.

Cukup satu balasan SMS, yg sopan dan standar, untuk membuat dia berani menelpon saya lagi. Entah apa maunya perempuan ini. Mengenang saat2 indah kebersamaan kami? Butuh teman curhat karena pacarnya yang sekarang lebih senang selingkuh? Atau?

Ternyata eh ternyata, yg namanya berburuk sangka itu engga baik. Dia nawarin proyek ratusan juta!

Wow!!! Ratusan? Saya, yang gajinya cuma satu setengah, butuh puluhan tahun untuk bisa punya uang dengan orde sekian. Itupun saya harus berusaha supaya saldo gaji tidak berkurang secara signifikan di tiap akhir bulan.

Tapi ini, ratusan juta bisa saya dapat hanya dengan bekerja santai selama sebulan, dengan bermodalkan sebuah PC dan sambungan Internet. Wah, rezeki, nih. Rezeki!

Dan di tengah obrolan yang penuh rasa engga enak (plis, deh, saya masih dendam sama dia), saya ingat kalau saya punya agenda yang terancam batal akibat kendala biaya. Benar. Acara pernikahan saya dijadwalkan molor karena tabungan saya belum cukup. Tapi dengan adanya proyek ini, dengan proyek ini, acara legal-sakral-kolosal itu bisa segera terlaksana.

Jadi itulah yang akan saya lakukan. Saya akan ambil proyek ini, tak peduli walaupun itu datang dari orang yang paling saya benci. Yang penting saya bisa dapat tambahan dana secara halal untuk sebuah ..., sebuah ..., sebuah cita2 mulia.

Jadi? Normal aja, kan? Engga ironis, kan?

Awal triwulan ke-dua, tahun depan, insyaallah.

Special thanks to: Letnan Sumanto

hehe, sebuah khayalan yg lebay memang

No comments: