2009/06/25

Phishing transfer pulsa IM3*

Potongan lagu ilustrasi Spongebob Squarepants terdengar dari ponsel butut saya, jam 7.45 pagi tadi. Di layar tertulis, "1 new message from +6285656531875." Bukan nomor yang saya kenal.

Saya pencet tombol "Read" dan muncullah:
Anda mempunyai PESAN SUARA 2 dr +6285656531875 dan lainnya
Untuk m'dgrkan
Ketik:TP<spasi>+6285656531875<spasi>11123
kirim ke 151
GRATIS.!!!
[blank line]
[blank line]
[blank line]
[blank line]
From: +6285656531875


Sayapun bergumam, "bener2 penipu yang cupu! Semua juga tau ini phishing untuk transfer pulsa ke nomor dia." Ya, format sms yg dimulai dengan "TP" artinya transfer pulsa. SMS di atas menyuruh saya untuk mentransfer pulsa sebesar Rp 11.123,00 ke nomor 085656531875.

Saya tentu tidak tertipu. Tapi bagaimana nasib orang lain yang mungkin tidak tahu tentang hal ini? Pulsa seharga sebelas ribu rupiah kan tidak kecil.

Kemarin, salah satu teman ceting di YM menulis cerita yang sama di status YM-nya. Dia memaki2 (dan menertawakan) kelakuan penipu yang cupu ini. Jadi saya engga terlalu kaget. Saya bahkan menyarankan untuk melaporkannya saja ke Indosat.

Tapi pagi ini saya yg mengalaminya, dan sungguh, niat untuk melaporkan ke Indosat menjadi urung.

Saya belum pernah menghubungi call center Indosat, tapi kata teman yang sudah pernah melakukannya, kemungkinan kita bisa berbicara dengan CS adalah sekitar 10%. Susah banget, katanya. Saya juga ingat hal lain, yg lebih krusial, yaitu laporan saya ini kemungkinan tidak akan bisa menangkap pelakunya.

Nomor selular bisa diperoleh dengan mudah, dengan harga murah. Anak kecil juga bisa mendapatkannya. Memang saat pertama kali akan digunakan ada informasi yang harus dikirimkan sebagai syarat aktivasi. Tapi saya tidak yakin apakah informasi tersebut diperiksa dulu kebenarannya atau tidak. Dan tentu, setelah itu bisa digunakan dengan leluasa, dan untuk selanjutnya dibuang jika aksinya (apapun itu) sudah selesai.

Jadinya, saya males untuk lapor. Saya tulis di sini aja, setidaknya pasti para pengguna telepon selular yang membaca ini (dan belum tahu tentang fasilitas transfer pulsa) akan sedikit berhati2.

Mungkin pemilikan nomor selular harus lebih dipersulit, seperti PSTN misalnya. Setidaknya, KTP atau identitas lain harus terbukti keasliannya sebagai syarat pemilikan nomor selular. Dengan begitu, kejahatan seperti dalam artikel ini sedikit banyak bisa diatasi. Pelakunya mudah dicari, atau setidaknya membuat orang mikir dua kali dan ragu kalau mau melakukan kejahatan.

Ngomong2, memberikan peluang untuk kejahatan dalam transaksi elektronik seperti ini melanggar UU-ITE engga sih?

*) kegiatan ini termasuk phishing engga ya? menurut saya sih termasuk.

2009/06/24

Apa itu "default?"

Pernah dalam sebuah kuliah Astronomi Komputasi, di tahun ke-3/4 kuliah, dosen saya berkata, "jangan asal bilang default tanpa tahu makna dari default itu apa. Coba, siapa yang bisa menjawab, apa itu default?"

Semua diam.

***

Saya mengenal istilah default pertama kali saat untuk pertama kalinya diperkenalkan pada dunia Internet oleh seorang sahabat (sekuliah, sejurusan, seangkatan, wisuda bareng, pokoknya soulmate lah). Dan kemudian lebih banyak bergaul dengan istilah itu saat sahabat yang lain (sekuliah, sekelas waktu TPB, beda jurusan, dia guru saya) mempertontonkan kebolehannya menguasai komputer.

Pergaulan dengan istilah2 sejenis semakin intens setelah saya lebih tertarik untuk ngoprek komputer daripada mempelajari fisika. Ah, tapi tetep aja blo'on.

Salah satu bagian yang saya ingat adalah pada konfigurasi GRUB. Dari semua OS/kernel yang bisa dipilih untuk diboot, ada satu yang harus diberi label default. Yang default ini tidak harus yang paling atas. Tapi yang pasti, jika kita tidak memilih salah satu pilihan yang disediakan, maka yang dilabeli default itulah yang akan diboot oleh GRUB.

***

Saya mencoba menjawab dengan asbun untuk pertanyaan dosen tadi, "default itu adalah sesuatu yang ditentukan jika kita tidak menyatakan pilihan kita. Sesuatu yang ..."

"Sesuatu yang default, kan?" beliau menukas. "Coba, lain kali jangan asbun kalau menjawab."

Saya tahu jawaban saya buruk, karena saya memang cuma meraba2. Tapi sepertinya beliau sentimen.

Tapi sudahlah, itu masa lalu.

***

Kembali ke konfigurasi GRUB. Selain label default yang wajib, ada lagi label pilihan yaitu fallback. Guna dari fallback ini, katanya, adalah opsi yang dipilih jika ternyata opsi yang diberi label default gagal untuk diboot.

Hmm, jadi ada yang lebih low-level ya dibanding default.

Saya yakin konfigurasi GRUB inilah yang sering jadi acuan dalam kalimat2 saya. Saya sering mengucapkan, "yah, kalau Soto Bogor engga ada, Sop Iga aja. Kalau ternyata engga ada, beli Nasi Gila. Kalau ternyata abis, ya udah fallback to default, Nasi Padang."

Saya tidak yakin mana yang benar, fallback-to-default atau default-to-fallback. Atau bahkan keduanya tidak ada yang benar? Yah, makna dua kata itu aja belum tahu, apalagi kalau keduanya digabung.

***

Barusan banget, aKregator saya narik feed RSS dari slashdot dan muncullah artikel ini:

Hugh Pickens sends along Kevin Kelly's paean to the default.
"One of the greatest unappreciated inventions of modern life is the default. 'Default' is a technical concept first used in computer science in the 1960s to indicate a preset standard. ... Today the notion of a default has spread beyond computer science to the culture at large. It seems such a small thing, but the idea of the default is fundamental... It's hard to remember a time when defaults were not part of life. But defaults only arose as computing spread; they are an attribute of complex technological systems. There were no defaults in the industrial age. ... The hallmark of flexible technological systems is the ease by which they can be rewired, modified, reprogrammed, adapted, and changed to suit new uses and new users. Many (not all) of their assumptions can be altered. The upside to endless flexibility and multiple defaults lies in the genuine choice that an individual now has, if one wants it. ... Choices materialize when summoned. But these abundant choices never appeared in fixed designs. ... In properly designed default system, I always have my full freedoms, yet my choices are presented to me in a way that encourages taking those choices in time — in an incremental and educated manner. Defaults are a tool that tame expanding choice."


Sepertinya jawaban saya pada cerita di atas tidak terlalu salah. Mungkin cara penyampaiannya saja yang kurang baik.

Tapi tetep, saya masih belum tahu deskripsi yang tepat untuk default. Ada yang bisa membuatkan kalimat yang bagus untuk menjelaskan itu? Sekalian dengan fallback deh, hehe ....

2009/06/21

Penggalan kisah perpisahan

Angin semilir menambah segarnya udara di pojok taman dekat stasiun kereta, di sebuah sore yang cerah.

"Kak, aku akan merindukanmu."

"Aku juga, sayang. Tapi kita harus tabah. Perpisahan ini hanya untuk sementara."

"Tapi aku takkan bisa hidup tanpamu."

"Jangan cengeng. Jauh sebelum kita ketemu, kita hidup sendiri, kan? Yakinlah, kita akan bisa melewati ini."

"Tapi ..., tak pernah terbayang kalau aku harus berpisah jauh darimu. Meski tidak setiap saat bertemu, tapi aku tahu engkau ada di dekatku."

"Iya, sayang, aku tahu. Bagiku juga ini berat."

"Aku tak akan bisa hidup tanpamu, Kak. Tanpa tanganmu menggengam tanganku. Tanpa belaianmu di rambutku. Tanpa desah nafasmu. Tanpa kehangatanmu. Tanpa, ah ...."

Dekapan keduanya bertambah erat, seakan mereka tak membutuhkan ruang untuk bernafas.

"Kau membuat ini menjadi sulit, aku jadi ragu untuk pergi."

"Kak ...."

"Sudahlah, jangan kuatir, aku akan rajin meneleponmu. Kau akan tahu setiap hal kecil yang aku lakukan."

"Kakak janji?"

"Iya, aku janji."

Bambang mendekatkan mulutnya ke telinga Henry, "titip jaga istriku ya. Jangan lupa sampaikan salamku untuk istrimu dan si kecil," bisiknya.

Henry melepaskan rangkulannya. Sambil tersenyum ia mengangguk, "Kakak bisa mengandalkanku."

---

Cerita di atas adalah fiktif. Mungkin saja ada kejadian yg mirip. Nama tokoh diambil dari orang2 di sekitar saya dan dari artikel sebelumnya. Tentu, dengan kesengajaan.

2009/06/19

Mungkin Yahoo! sedang berbenah

Pagi2, begitu datang ke kantor, temen yang shift malam langsung laporan katanya dari semalam tidak bisa online ke Yahoo Messenger. Saya udah bisa nebak aja, pasti IP scs.msg.yahoo.com berubah lagi. Lebih tepatnya, IP-nya bertambah, ini terjadi terus sejak kemarin. Jadi settingan di firewall yang emang saya buat strict agak menyulitkan para klien YM untuk bisa tersambung ke jaringannya.

Segera saja saya ubah setting firewall, dengan mengisikan IP-IP baru tersebut.

Namun ternyata masalah tidak hanya terjadi di situ. Setelah rule firewall baru diterapkan, pidgin kesayangan saya juga ternyata tidak bisa tersambung ke jaringan YM. Tapi anehnya, program lain, yaitu kopete, tidak mengalami masalah ini. Langsung tersambung dengan lancar, tentu setelah rule firewall baru diterapkan.

Selain pidgin yang tidak bisa tersambung. Saya juga menemukan keanehan pada layanan2 invisible-scanner yang tidak memberikan hasil akurat pada query yang saya submit.

Hmm, mungkin memang Yahoo sedang berbenah. Atau ada rule firewall saya yg salah?

2009/06/15

Akhirnya, hadapi dengan sempurna

Kembali kami persembahkan ke hadapan anda, episode lagu kenangan Si Aa Ganteng.

Hari Kamis atau Jumat kemaren, entah kekuatan apa yang menyuruh saya untuk memutar kembali lagu2 yang membuat saya merinding ketika mendengarnya. Kenangan indah dan getir (pasti aja kayak gitu) langsung melintas dan terbayang2 dalam pikiran.

Terlalu cengeng ah, kalau saya ceritain apalagi dengan sangat rinci kejadian apa yang terbayang gara2 lagu2 itu. Cuman kayaknya dari lirik lagunya udah ketahuan atau bisa ditebak tema kejadian yang dimaksud. Tanggal ingatan dan waktu lagu menjadi hit tidak bersesuaian.

Lirik2 inilah yang menggugah perasaan2 itu. Satu lagu, satu penggal kisah, satu ingatan. Di bawah potongan lirik ada sekilas info tentang kenangan yang dimaksud.

Akhirnya 'ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya 'ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
... (Naff - Akhirnya 'Ku Menemukanmu)

Sekitar Januari/Februari 2007, awal2 masuk kerja di tempat yang sekarang, dengerin pengamen di bis Kopaja 605 yang nyanyiin lagu ini.

Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi biar terjadi
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua... Kan baik baik saja
... (Dewa - Hadapi Dengan Senyuman)

Hari pertama banjir besar Jakarta 2007. Lagu ini diputar terus menerus di PC Endrik.

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh, sayangku kau begitu sempurna
... (Andra & the Backbone - Sempurna)

Oktober 2007, lagu sinis yang ditujukan kepada saya. Lagunya bagus, saya suka. Tapi isi lagu ini jelas sebuah sindiran untuk saya.

Sekian episode lagu kenangan kali ini.

2009/06/08

Ada capres yang menolak UU-ITE?

Ada gak ya, calon Presiden yang salah satu programnya adalah berusaha mencabut, atau setidaknya merombak, atau paling tidak mengkaji ulang UU-ITE?

Atau emang itu bukan urusan Presiden ya?

Hihi, nya teuing atuh.

2009/06/03

Saya akan dipenjara

Setelah ditahannya Prita Mulyasari karena keluhan beliau tentang sebuah Rumah Sakit. Saya yakin beberapa saat lagi saya akan menjadi korban UU yang dibuat tanpa penggodokan yang benar ini. Tahulah, ya, UU mana yang dimaksud.

Beberapa kali saya menulis dengan kata2 kasar tentang keluhan saya terhadap beberapa vendor besar. Tapi sungguh, saya menulis itu dengan alasan. Dan setelah sebelumnya keluhan saya tidak ditanggapi dengan serius.

Kebayang LP di Indonesia harus ditambah menjadi seribu kali lebih banyak. Saya yakin udah banyak sekali orang yang pernah menulis baik di blog maupun lewat jalur pribadi tentang kekecewaan mereka pada sebuah vendor sistem operasi berbayar, dan mungkin dengan kata2 kasar. Juga pasti sudah banyak orang2 yang menulis hujatan serta hinaan mereka pada vendor2 open source. Orang2 ini berpotensi untuk dijerat dengan UU yg juga menjerat bu Prita.

Yah, kalau emang akan terjadi, terjadilah. Akan kita lihat, sampai sejauh mana kebobrokan moral pemerintah negara kita tercinta ini dengan UU yang hebat itu.

2009/06/02

Sono basa Sunda

Tadi peuting, kuring ngarasa kasurupan. Beu! kasurupan? Teuing kasurupan ku naon atawa ku sahana mah. Ngan tadi peuting teh kuring sacara teu sadar nyarita make basa Sunda nu teges bari jeung siga nu koloteun. Basa Sunda teges maksud kuring teh nyaeta basa Sunda nu teu dicampur ku basa sejen. Aya istilah nu leuwih merenah? Bejaan kuring. Jeung bener koloteun, lain kokoloteun. Buktina, batur nyarita nu harita keur jauh nyatujuan yen kuring teh kawas nu koloteun. Da lamun kokoloteun mah kudu katingali ku tetenjoan, lain kadenge sorana. Heup!

Sanggeus pangalaman tadi peuting, pabeubeurang kuring ngawangkong jeung batur sakantor. Dina salahsahiji obrolan, kuring make paribasa Sunda. Geus kitu ditembalan ku paribasa deui.

Kieu cenah (harita teh keur ngawangkong soal artikel blog nu saacan ieu):

Batur Gawe: taksi naon judulna?
Si Aa Ganteng: xxx taksi
Si Aa Ganteng: sareng taksi yyy
Si Aa Ganteng: xxx nu asalna sae
Si Aa Ganteng: tapi jadi kacau
Batur Gawe: oooohhh...
Si Aa Ganteng: lamun siang2 mah teu masalah, ngan mun tos wengi, asa aya jalan komo meuntas
Batur Gawe: ceileeee pake peribahasa
Si Aa Ganteng: ulah gagabah
Batur Gawe: mobo manggih gorowong sigana mah tukang taksi teh
Si Aa Ganteng: taaaaaaah eta
Batur Gawe: hahahahaaa
Si Aa Ganteng: nu mobok manggih gorowong
Batur Gawe: asa pelajaran basa sunda
Si Aa Ganteng: rek nyieun liang, malah aya guha
Si Aa Ganteng: nya puguh we kokomoan
Si Aa Ganteng: siga nu murag bulu bitis
Si Aa Ganteng: *teu nyambung*
Batur Gawe: okeh okeh cukup, nu lieur beuki lieur
Batur Gawe: enya ih nu bener mah sapiri umpi
Si Aa Ganteng: sami wae
Si Aa Ganteng: nu penting mah ulah dikompet daunkeun
Batur Gawe: sakompet daun
Si Aa Ganteng: nya kitu, harilap deui
Batur Gawe: :p

Lain rek agul kuring apal paribasa Sunda bari jeung bener, da henteu, tapi asa waas. Asa inget deui pangajaran Basa Sunda di SD jeung SMP. Asa inget deui ka kolot2 sim kuring nu sapopoena make basa Sunda. Enya, jadi inget ka aranjeunna. Sakapeung mah indung atawa nini kuring make kecap anu kuring teu apal, tapi nyatana eta teh kecap dina basa Sunda nu bener. Lah, geus teu inget kecap naon2na mah. Kitu we pokona mah.

Jadi sono lembur (pan kamari karek balik?). Jadi sono lingkungan nu nyunda. Jadi sono kana kabeungharan budayana, enya ge kuring mah teu bisa nabeuh alat musik Sunda hiji2 acan. Tapi ari ngadengekeun atawa lalajo mah nya resep we.

Asa nyambung we, kitu, jeung pangalaman peutingna. Tapi teu matak aheng, da kuring mah urang Sunda. Ti leuleutik digedekeun di lingkungan Sunda, jadi teu aneh mun sakali2 kasurupan lodaya nu biasa ngajaga Prabu Kean Santang. Ah, dasar wadul!

"Sudah, Dek, curhatnya cukup sekian. Pendek, ngelantur, dan engga nyambung dengan apapun. Cukuplah."

2009/06/01

Jangan mudik ke Tasik malam hari

Bukan maksud saya melarang untuk berangkat mudik ke Tasik pada malam hari. Ini lebih ke keinginan saya untuk tidak mudik ke Tasik jika diperkirakan akan sampai di sana pada malam hari. Lebih khusus lagi, kalau perkiraan sampai ke sana di atas jam sembilan malam.

Dulu, ketika awal2 ada taksi di Tasik, semua jadi terasa indah. Kalau sampai di Tasik di atas jam sembilan (sebelum jam satu dini hari tapinya), tinggal naek Taksi aja, ongkos yg dihabiskan adalah sekitar dua puluh ribu rupiah.

Tapi mudik kemarin benar-benar bikin bete. Saya sampai di pool bis yang mengangkut saya dari Jakarta sekitar jam 21:15. Langsung aja saya mendekati Taksi, dan mengatakan tujuan saya. Tapi si supir kemudian bilang, "Pak, kalo malem engga pake argo. Ke rumah bapak itu tiga puluh rebu, lah."

Busettt!!

Saya pernah bayar tiga puluh rebu untuk perjalanan yang sama. Tapi waktu itu saya sampai di Tasik di atas jam satu dini hari. Dan saya bisa maklum. Tapi ini jam sepuluh aja belum. Coba kalau saya satu jam lebih awal, maka ongkos untuk sampai di rumah adalah empat ribu rupiah. Beuh, males deh. Padahal beberapa bulan sebelumnya, taksi dari perusahaan yang sama pada jam yang sama masih pake argo.

Naek ojek? Bakalan sama, paling beda lima rebuan. Ngeborong angkot? (Ini yang terjadi malem kemaren) Lumayan bisa dapet lima belas rebu. Tapi kan mestinya dengan harga semahal itu saya udah bisa gaya2an naek taksi. Ini mah malah di dalem angkot.

Jadi, ini catatan untuk diri sendiri aja: kalau perkiraan datang ke Tasik terlalu malem mending gak jadi mudik.