2008/04/30

Tampilan nomor satu, sekuritas engga perlu

Mengutip Ahmad Sofyan dari berita di Okezone: Cukup banyak pihak yang memerlukan layanan webhosting. Namun mereka bingung dengan berbagai jargon teknis yang ada, seperti SSH, redirect, mySQL, quota disk atau bandwidth, dan sebagainya. Padahal, pada dasarnya mereka hanya membutuhkan website yang berfungsi baik, itu saja," ujar Direktur Rimbalinux Ahmad Sofyan dalam siaran persnya beberapa waktu lalu.


Nampak inilah yang dimaksud oleh Budi Rahardjo yang ditulis DetikInet waktu musim deface situs pemerintah beberapa minggu yang lalu: "Biasanya yang penting webnya jalan dulu, baru kemudian memikirkan masalah sekuriti lalu yang ketiga performa," ujarnya kepada detikINET yang dihubungi via telepon, Rabu (16/4/2008). Bahkan, lanjut Budi, kadang-kadang admin lupa meng-upgrade software karena alasan sibuk, proyek sudah selesai ataupun tidak ada dana untuk upgrade.

Hmmm ya kayak ginilah kalau suatu bangsa yang dibesarkan hanya untuk cari duit. Ketika melihat bahwa situs web bisa membantu menaikkan popularitas (yang pasti ujung2nya menaikkan pemasukan), beramai-ramailah mereka pasang situs web tanpa tahu dan tanpa merasa perlu untuk mempelajari ilmunya terlebih dahulu.

Saya kurang setuju dengan Ahmad Sofyan. Supaya sebuah website berfungsi dengan baik, administrator/pemilik situs tersebut harus tahu tentang masalah teknis yang notabene memang rumit. Tidak mungkin pengurus webhosting bisa menangani situs yang dihost di tempat mereka semuanya sekaligus. Entah itu tentang masalah tampilan ataupun sekuritas. Kalau gue sih yakin gempor... Gak tahu juga sih kalau orang lain.

Cuma bisa berdoa kalau orang Indonesia semakin meningkat kualitas pendidikannya.

2008/04/28

Opsi encoding dengan mencoder

Catetan, biar engga lupa. Kalau inget lagi entar ditambah.

Opsi Xvid
Opsi xvid-encoding yang biasa saya gunakan kalau ripping video:
-xvidencopts vhq=4:bvhq=1:chroma_me:keyframe_boost=13:quant_type=mpeg:noqpel:nogmc:turbo:pass={1,2:bitrate=-$TARGETSIZE}

Kalau encoding film kartun, tambahkan opsi cartoon, simpen di depan atau belakang juga boleh.

Opsi lame
Kalau ripping to-avi sekaligus encoding audio, codec yang dipake untuk audio adalah mp3lame. Ini opsinya:
-lameopts abr:mode=1:br=$BITRATE

Video filter (postprocess juga masuk sini)
Opsi di sini sih gak selalu semua dipake, disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau video tidak akan diresize, ya opsi scale dibuang. Kalau denoiser tidak diperlukan, hqdn3d dibuang aja. Tergantung video asli dan hasil yang diinginkan.
-vf hqdn3d,pp=ci/lb,crop=w:h:x:y,scale=w:h:0:0:0:0.75

2008/04/18

CiPF: libmp3lame dan freebsd-update

libmp3lame
Di FreeBSD-7.0 yang saya pake sekarang terjadi sedikit masalah. mpg321 dan mplayer bisa memainkan file mp3 dengan baik. Tapi lucu banget, program "play", dari paket sox, gagal memainkan file .wav karena tidak menemukan pustaka libmp3lame. Errornya kayak gini:

$ play a.wav
/libexec/ld-elf.so.1: Shared object "libmp3lame.so.0" not found, required by "play"


Terang aja, begitu error ini keluar saya langsung cari paket yang berbau lame dan mp3. Paket yang mengandung kata mp3 tidak ada. Yang mengandung lame juga tidak menjanjikan, yang ada cuma ini:
glame-2.0.1_6
gstreamer-plugins-lame-0.10.6_2,3
mctoolame-decoder-0.1.a_2
mctoolame-encoder-0.1.a_1
toolame-0.2l_1
twolame-0.3.10
flamerobin-0.7.6_1
xflame-1.1.1_1
wmflame-0.60_2
e17-module-flame-20070223_1

Hasil nanya ke jujel juga tidak memberikan trik yang menjanjikan. Sebagian besar ngasih tahu kalau link dari libmp3lame.so.0.0 ke libmp3lame.so.0 tidak ada jadi mesti dibuat dulu. Masuk akal memang, cuman yg jadi masalah adalah file libmp3lame.so.0.0 sendiri tidak ada. Jadi? Eksperimen deh.

Pustaka libmp3lame tidak ada, tapi pustaka libmad ada. Nah setahu saya libmad ini juga ada hubungannya dengan mp3. Diputuskanlah untuk nekad menggunakan libmad ini saja. Perintah yang saya pake untuk membuat link adalah seperti ini:

# ln -vfs libmad.so /usr/local/lib/libmp3lame.so.0

Lalu coba mainkan file .wav tadi

$ play a.wav

Input File : 'a.wav'
Sample Size : 16-bit (2 bytes)
Sample Encoding: signed (2's complement)
Channels : 2
Sample Rate : 44100

Time: 00:04.09 [03:44.46] of 03:48.55 ( 1.8%) Output Buffer: 180.22


Horeeee, play sekarang bisa memainkan file WAV. Suaranya juga keluar dari speaker. Hhhh, lega deeeh.

freebsd-update
Salahsatu hal yang membuat saya malas untuk menggunakan FreeBSD adalah legenda yang disebarkan oleh teman2 pengguna FreeBSD, bahwa setiap ada security advisory maka yang dilakukan adalah melakukan update source ports lalu compile paket yang disebutkan dalam advisory. Malah banyak yg lebih ekstrim, yaitu melakukan perintah "portmanager -u", yang ternyata setelah mengupdate ports langsung mengcompile semua paket yang harus diupgrade.

Saya yakin itu ada tujuannya, dan jelas tujuan yang baik. Tapi bagi saya pribadi yang PC-nya bukan kelas "monster", proses ini akan sangat melelahkan karena artinya KDE yang saya pakai juga harus dicompile ulang. Wedewwww... COMPILE KDE? Cape deeeehhh.

Untunglah ternyata ada tools freebsd-update yang membantu orang2 yang kesulitan/keberatan melakukan kompilasi untuk mengupdate sistem FreeBSD mereka. Penggunaannya gampang, pertama lakukan perintah ini:

# freebsd-update fetch

Kalau muncul keterangan bahwa ada file yang telah didownload, artinya file tersebut harus diupdate, lakukan perintah lanjutan:

# freebsd-update install

Beres deh. Nah biar kita engga terus2an ngetik perintah ini tiap hari, karena kita tidak pernah tahu kapan ada update atau tidak, bisa juga memanfaatkan fasilitas notifikasi dari program ini. Jadwalkan saja (dengan cron) supaya perintah ini dieksekusi tiap hari:

freebsd-update -t alamat@email.kita cron

Nah, porgram itu akan mengirim pemberitahuan ke alamat@email.kita jika ada file yang harus diupdate. Kalau suatu saat kita dapet email pemberitahuan ini, buru2 aja lakukan perintah fetch dan install tadi di atas. Begitchu.

2008/04/17

Pakar negatif

Setelah memunculkan dan memasyarakatkan istilah "blogger negatif" di Indonesia, akan adakah yang berani memunculkan istilah "pakar negatif"?

2008/04/11

CiPF: DVD FreeBSD-7.0 dari 4 iso CD

Apa itu CiPF? Gak mau tahu? Peduli ah, CiPF adalah singkatan dari: Catatan idud Pakai FreeBSD. Dari namanya sudah bisa ditebak isinya, tak perlu dijelaskan lagi.

Saya kenal FreeBSD sejak tahun pertama kuliah, akhir 2000 lah. Dulu saya tidak tahu perbedaan OS yang satu ini dengan OS mirip UNIX lainnya, soalnya saya cuma menjadi pemakai dari beberapa layanan free-shell. Semenjak punya komputer saya sudah beberapa kali menginstal FreeBSD (pertama kali menggunakan versi 5.2), mencoba2 untuk membiasakan diri, dan mencoba untuk melakukan beberapa perubahan supaya enak jika dijadikan OS utk desktop. Tapi sayang, utk ngoprek linux (macem2 distro) aja waktunya udah keburu abis, jadinya si FreeBSD hampir engga keeksplor. Nah sekarang, mumpung sering ada waktu luang sehabis kerja, mungkin adalah saat yang tepat untuk mencoba membiasakan diri memakai FreeBSD sebagai desktop. Saat ini sih masih pakai Debian, soalnya yang FreeBSD baru selesai diinstal.

4 CD instalasi saya ambil dari sini. Tapi kemudian saya mikir, saya kan belum beli CD blank, yang saat ini ada di laci meja adalah DVD blank. Lagian 4 cd itu isinya engga penuh 700MB tiap cd-nya. Malah ada yg isinya cuma 200MB. Wah kalau 4 cd bakal mubazir nih, pikir saya. Kayaknya bakal bagus nih kalau semua dibundel jadi 1 DVD.

Untuk keperluan membundel ini saya kemudian googling, dan nemuin sebuah artikel yang ditulis oleh Dru Lavigne. Di artikel tersebut dijelaskan dengan sangat singkat tapi jelas cara2 membundel 4 cd instalasi FreeBSD-7.0 menjadi 1 DVD. Tapi sayang, perintah2 yang ditulis di situ ada yang tidak cocok dengan OS yang saat ini saya pakai. Dru menggunakan perintah mdconfig untuk membuat sebuah device RAID (cmiiw) utk mewakili file iso cd supaya bisa dimount di sebuah direktori, perintah tersebut tidak ada di Debian. Oleh karena itu saya gunakan saja perintah yang biasa saya gunakan kalau mau mounting file iso. Menggunakan tar untuk menyalin file dari iso yang sudah dimount juga bukan hal yang biasa saya lakukan, jadi perintah itu juga saya ganti.

Saya yakin udah banyak banget yang membuat tulisan serupa, malah lengkap dengan penjelasan dan rujukannya. Tapi berhubung ini mah untuk keperluan catatan diri sendiri, boleh dong cara2 ini saya tulis di blog saya.

Jadi, dalam versi saya, urutan2 membundel 4 iso cd menjadi dvd adalah sebagai berikut:

  1. Download dulu lah iso-nya. Simpaan aja di suatu direktori, misal di /media/archive/. Buat sebuah direktori, dan pindahkan working direktori ke direktori baru tersebut. Tanda "$" menunjukkan saya tidak melakukannya sebagai root dan sebagai ciri bahwa perintah tersebut harus berada dalam satu baris yang sama.

    $ mkdir /media/archive/fbsd-dvd && cd /media/archive/fbsd-dvd

  2. Mount file iso lalu salin isinya. Saya pakai sudo karena mount membutuhkan privilege superuser. Pastikan /mnt adalah direktori kosong yang tidak dipakai oleh user atau proses manapun

    $ sudo mount -o loop /media/archive/7.0-RELEASE-i386-disc1.iso /mnt
    $ cp -a /mnt/* . && chmod u+w * && sudo umount /mnt

    $ sudo mount -o loop /media/archive/7.0-RELEASE-i386-disc2.iso /mnt
    $ cp -a /mnt/* . && chmod u+w * && sudo umount /mnt

    $ sudo mount -o loop /media/archive/7.0-RELEASE-i386-disc3.iso /mnt
    $ cp -a /mnt/* . && chmod u+w * && sudo umount /mnt

    $ sudo mount -o loop /media/archive/7.0-RELEASE-i386-docs.iso /mnt
    $ cp -a /mnt/* . && chmod u+w * && sudo umount /mnt

  3. Edit file packages/INDEX

    $ cp packages/INDEX{,.bak}
    $ sed s/'||1'//g packages/INDEX.bak|sed s/'||2'//g|sed s/'||3'//g > packages/INDEX
    $ rm packages/INDEX.bak

  4. Edit file cdrom.inf, pastikan isinya seperti ini:
    CD_VERSION = 7.0-RELEASE
    CD_VOLUME = 0
    CD_VOLUME = 1
    CD_VOLUME = 2
    CD_VOLUME = 3

  5. Hapus direktori rr_moved

    $ rm -rf rr_moved


OK, acara pembundelan sudah selesai. Sekarang tinggal dibakar ke DVD atau dijadikan file iso supaya suatu saat bisa dibakar ke DVD. Untuk membakar langsung ke DVD saya pakai perintah ini:

$ growisofs -Z /dev/hdd -J -R -speed=4 -no-emul-boot -b boot/cdboot -iso-level 3 .

Pastikan device pembakar DVD sudah diketahui nama device-nya (di saya /dev/hdd), dan perhatikan di bagian akhir ada tanda titik. Kalau mau dijadikan file iso bisa pakai perintah ini:

$ mkisofs -V 'FreeBSD-7.0' -J -R -b boot/cdboot -no-emul-boot -o freebsd-7.0.iso .

Ya, sudah sampai situ, DVD FreeBSD sudah bisa dipakai utk booting komputer lalu lakukan instalasi seperti biasa tanpa harus ganti2 CD.

2008/04/08

Indosat ngeblok multiply (terkait kasus Youtube)

Ah dasar kurang beruntung. IM2 yang sangat kuandalkan selain ngeblok youtube ternyata juga ngeblok multiply. Yah, dengan sangat menyesal, untuk ngakses multiply harus pake speedy.

Telkom kelihatannya sudah menutup akses ke youtube, tapi tidak menutup akses ke multiply.

Youtube-nya bandel sih. Sebetulnya saya salahsatu penggemar youtube. Banyak sekali hal2 baru, yang tentu adalah hal2 baik yang saya dapet. Sayangnya youtube (atau mungkin kebanyakan keluarga Google) terlalu ignorant. Waktu pertama mulai santer berita ttg film Fitnah, saya langsung cari ke wikipedia, dan langsung menemukan sinopsisnya di sana. Satu hal yang menarik adalah banner di bagian atas halaman yg dimaksud memberitahukan bahwa isi halaman itu samasekali bukan tanggungjawab wikimedia (pemilik wikipedia). Saya yakin kalau halaman tersebut diprotes orang, pasti wikimedia segera ambil tindakan.

Beda dengan Youtube yang samasekali tidak memberi peringatan apapun, seakan itu film benar2 film yang bisa beredar tanpa menimbulkan pertentangan dan kekacauan. Lucunya, surat peringatan dari pemerintah Indonesia tidak dilirik sedikitpun. Tidak ada pemberitaan bahwa Youtube telah merespon surat dari pemerintah RI. Yang direspon malah surat dari detikinet, lucu. Ya, sekarang Youtube harus menelan pil pahit dengan kehilangan banyak sekali pengakses potensial dari Indonesia. Makanya, jangan terlalu ignoran.

Tapi sayang :( multiply jadi ikut keblok.