2006/08/28

Bingung Bahasa

OK, aku bukan ahli bahasa. Bahkan bukan `alih' bahasa. Tapi ada hal2 yang begitu terasa mudah disimpulkan, ternyata banyak orang yang salah dalam menggunakannya.

``Kalimat yang aneh.''

Jangan dipikirkan. Terutama, jangan menyinggung soal ketakmampuanku dalam menyusun struktur bahasa yang benar. Yang mana subjek, yang mana predikat? Pertanyaan itu yang pernah membuatku ingin bunuh diri.

Akhir-akhir ini aku sering nonton TV, maklum, pengangguran. Siaran yang paling sering kutonton adalah Metro TV. Andai tak ada Najwa Shihab, Rahma Sarita, Frida Lidwina, dan Gadiza Fauzi, sepertinya aku harus tak suka Metro. Kata `paska' dan kata-berimbuhan-di sering tampak (bukan `terlihat') pada subtitle maupun News Ticker.

Paska. Bukankah seharusnya `pasca'? Kata itu diserap bukan dari bahasa Inggris tapi Sansekerta (CMIIW). Dan `c' dalam bahasa Sanskrit tidak dibaca `k'. Jadi apa alasannya `pasca' menjadi `paska'? OK, lah, dulu orang sering salah baca tapi tidak salah tulis. Sekarang? Salah baca dan salah tulis. Engga tahu, deh, harusnya gimana. Mungkin para ahli bahasa harus segera menertibkan hal ini. Sebelum kesalahan ini terlanjur membudaya.

`Di' dalam kata dipakai, dibunuh, diserang, dimengerti, dll, adalah imbuhan. Biasanya dipakai dalam kalimat pasif. Misalnya, ``Roti dimakan oleh Dudi.'' Penulisannya imbuhan dengan kata yang diberi imbuhan haruslah disatukan. Jika dipisah, artinya `di' adalah sebuah kata (bukan imbuhan) yang menyatakan letak (tempat). Tapi yang sering tampak di televisi adalah: `di makan', `di serang', `dikedalaman', dan banyak kesalahan lain.

``Sudahlah, itu, kan, bukan urusan kita.''

Kau benar. Kita hanya praktisi bahasa, bukan pakar.

Kontes Putri-putrian: Murni Hiburan

Ribuan orang dan puluhan ormas menentang diselenggarakannya kontes putri-putrian. Banyak orang pula yang mendukung diadakannya acara tersebut. Diantara yang jelas menyatakan dukungannya: sponsor, jaringan televisi, dan masyarakat yang suka hiburan. Yang menentang: orang-orang peduli akhlak, kaum agamawi, dan organisasi keagamaan.

``Oke, saya ngerti Anda ingin ditanya. Bagaimana dengan Anda? Mendukung? Tidak?''

Kalau saya setengah-setengah. Dukungan dan tolakan saya tergantung dilihat dari segi apa. Jika kita perhatikan bahwa acara tersebut memberikan hiburan yang sangat spektakuler, saya dukung habis-habisan. Apakah ada cowok normal yang tidak suka melihat puluhan perempuan cantik, muda, dan seksi berjalan mondar-mandir dengan senyuman tersungging di bibir. Kagak nolak, dah, Gua.

``Segi yang lain?''

Perhatikan tujuan dari acara tersebut. Mereka mencari _duta_ budaya. Sayang, sebagian orang menganggap putri-putrian yang terpilih sebagai _idola_. Betul?

``Euh, apa iya? Engga tahu, ah.''

Nah. Jika pihak penyelenggara tidak menyatakan dan menjelaskan (sejelas-jelasnya) bahwa acara ini diadakan untuk mencari `duta pariwisata dan budaya', saya tolak. Karena akan menimbulkan apa yang disebut dengan `salah tafsir' di dalam masyarakat. Mereka tak perlu menjadikan juara kontes ini sebagai idola, bahkan mereka harus sadar bahwa sang juara hanyalah seorang SPG (Sales Promotion Girl).

``SPG? Serius, dong!''

Dua rius, malah. Tugas dari Sang Putri-putrian, kan, mempromosikan daerahnya. Apakah itu negaranya, atau propinsinya, atau bahkan kampungnya. Makanya syarat utama peserta ajang ini adalah: cantik. Engga perlu pinter. Persis SPG yang sering kita lihat di pameran produk. Bahkan juara putri-putrian sejagat saja tak bisa bahasa Inggris (malu, tuh, sama host dan hostess acara). Pantesan wakil Indonesia juga menyebut negaranya sebagai `big city'. Juaranya aja kayak gitu.

Jadi, buat gue, acara ini jelas murni hiburan. Kita, para cowok, kalau pergi ke pameran produk, tujuannya pasti ngeliatin para SPG. Sekalian cari produk yang pas dengan kantong, tentunya. Dengan SPG cantik, atau menarik, atau seksi, pameran jadi ramai pengunjung, kan. Mereka engga perlu pinter, yang penting mau senyum. Kita para pengunjung terhibur sekali.