2006/06/15

Tayangan, Lahm, dan Indonesia

Tayangan Lengkap

Dinihari tadi, tayangan Piala Dunia di SCTV adalah yang terbagus. Hampir lengkap. Dari mulai pemain masuk lapangan, sampai para pemain Jerman tertawa di atas tangisan Polandia. Ya, Jerman adalah tim pertama yang memastikan lolos ke 16 besar. Permainan yang dramatik, mandul dan diselesaikan hanya dengan 1 gol di injury time. Tayangan yang penuh romantika. Salut.

Phillip Lahm

Saya lihat pemain Jerman yang bermain sangat baik tadi pagi adalah Philip Lahm. Saya baru tahu pemain ini ketika dia mencetak gol pertama Piala Dunia 2006. Mengingatkan saya pada Michael Owen ketika mulai menunjukkan sinarnya di Piala Dunia 1998. Lari cepat, dribbling bola, oper ke teman, shooting, pokoknya keren. Udah gitu, posturnya juga kecil dan pendek. Paling pendek di antara para pemain Jerman. Yet, permainannya bagus, penuh semangat, dan harusnya bisa menginspirasi. Sayang, sepertinya Klinsmann sedikit salah menempatkannya di posisi belakang, saya pikir harusnya dia menjadi gelandangan, eh, gelandang penyerang.

Sukses, dah, buat Lahm. Kalau bisa main bagus, mungkin bakal main di klub besar dan masih akan main di 3 Piala Dunia berikutnya.

Indonesia ke Piala Dunia? Masak, sih?

Catet, saya mungkin orang yang punya keinginan terbesar untuk melihat PSSI bermain di putaran final Piala Dunia. Tapi, ini perndapat pribadi, kayaknya sesuatu yang masih sulit untuk dicapai. Long, long way to go. Pertama mental para pemain harus digodok dulu. Salahsatu alat untuk ini tentu adalah liga domestik, mengingat jarang sekali pemain Indonesia yang main di luar negeri. Tapi, maksud hati memeluk gunung, apa daya gunungnya aja engga ada. Menejmen kompetisi di Indonesia memungkinkan PSSI untuk tidak bermain di Piala Dunia.

Lihat saja, ketika kita dimanjakan dengan tontonan permainan tingkat internasional, kemanjaan kita ditambah dengan tontonan dalam negeri karena ternyata liga Indonesia masih berlanjut. Bagaimana bisa pergi ke Jerman kalau liga domestik aja belum kelar? Lihat negara-negara besar sepakbola di Eropa, tiap dua tahun selang-seling ada Piala Eropa dan tentu Piala Dunia. Agenda untuk acara besar itu, kan, hampir pasti: Juni-Juli. Dan kita lihat liga di negara-negara itu sudah selesai sebelum pehelatan besar dimulai. Padahal hampir tiap negara punya kompetisi liga dan piala liga. Tapi karena menejmen yang benar dan profesional, mereka tetap bisa sukses.

Gimana? Pada pengen engga, sih, ngeliat PSSI main di Piala Dunia? Saya akan lupakan Jerman dan Perancis, saya akan dukung Indonesia, andai PSSI bisa masuk ke putaran pertama babak final Piala Dunia. Tak peduli walau harus kalah dalam tiga pertandingan pertama dan tidak lolos 16 besar. Yang penting saya bisa ngelihat orang-orang sebangsa berlaga, dan bisa mendengar Indonesia Raya berkumandang di stadion saat pertandingan akan dimulai?

Harapan yang berlebihan? Saya harap tidak.

2006/06/12

Perbaikan

Yeagh!!! Ada peningkatan, tuh, si SCTV. Ayo terus, perbaiki dirimu! Beri orang Indonesia tayangan bermutu! Kalau kian lama kian bagus, aku mendukungmu!

2006/06/11

Jadi Yang Terjajah

Begini ini, kalau jadi orang terjajah. Penjajahan yang dimaksud bukan penjajahan oleh Belanda dan Jepang di masa lampau. Tapi penjajahan dalam hal lain. Ini kekecewaan saya setelah menunggu 2 jam untuk menonton pertandingan pertama Piala Dunia 2006 Jerman vs. Kosta Rika tadi malam. Di SCTV tentunya.

``Oh, dijajah sama SCTV, toh?''

Bayangkan, selama 2 jam kita disuguhi tontonan yang samasekali tidak bermutu. Lagu-lagu dari band yang tidak saya sukai, nona-nona `Gila Gol' yang engga keruan, kuis antah berantah, dan obrolan komentator yang engga pada tempatnya. Padahal dari jauh-jauh hari saya sudah berharap SCTV bisa menayangkan Piala Dunia dengan jauh lebih baik dari RCTI di tahun 2002. Tapi apa lacur, mereka semua cari duit dan tidak peduli pada penonton.

Tadi malam itu sebetulnya saya menunggu upaca pembukaan yang diadakan di Jerman. Saya pikir dalam waktu 2 jam yang disediakan, SCTV akan menayangkan upacara pembukaan secara lengkap. Nyatanya nol besar. Saya juga ingin romantika pertandingan piala dunia seperti ketika ditayangkan TVRI zaman dulu. Para pemain keluar dari ruang ganti, berbaris di tengah lapangan dengan rombongan anak-anak untuk menunjukkan kepedulian, dikumandangkannya lagu kebangsaan tim yang bertanding, salaman, tukar cinderamata (bendera kesebelasan), dan akhirnya peluit kick-off. Tadi malam semua itu tidak ada. Saya kecewa. Padahal momen-momen seperti itu termasuk inspirational. Seandainya anak-anak Indonesia melihat itu, bukan tidak mungkin timbul keinginan mereka untuk bisa menyanyikan Indonesia Raya di perhelatan besar seperti ini. Semangat bisa bangkit. Yah, setidaknya semangat. Moral.

Tapi ada satu hal yang saya cukup senang, dan saya harap akan diertahankan SCTV sampai final nanti. Kalau engga bisa memperbaiki setidaknya pertahankan yang sudah baik.

``Apa?''

Yang saya senang adalah: tidak ada iklan selama tayangan pertandingan. Tak ada banner sponsor. Tak ada label sok tahu (replay, reverse angle, dll.). Ini cukup menggembirakan. Ingat di tahun 2002? Banner iklan setengah layar. Sudah gitu, layar digulung ke atas hanya untuk menampilkan iklan sponsor. Dan yang paling parah: iklan Extra Joss (sponsor utama) langsung flashing tepat saat kick-off. Sudah tak perlu diceritakan lagi kalau pesan UNICEF `Say yes to children' tidak pernah ditayangkan.

Parah, kan? Tapi pablebuat, cuma siaran mereka itulah yang bisa saya tonton. Seandainya saya bisa mengakses siaran TV luar negeri yang pasti menayangkan secara lengkap (ESPN mungkin?), saya tak perlu lagi menderita seperti ini.

``Yah, namanya juga kaum terjajah.''

Nah, itu dia, kita ini orang terjajah. Entah kapan kita akan merdeka. Mungkin, tak 'kan pernah merdeka. Sedih.

--Edit--
Ada peningkatan, deng, pas nonton Inggris vs. Paraguay setidaknya salaman dan tukeran bendera ditayangin. Udah gitu, salaman plus pelukan di akhir pertandingan juga diliatin. Bagus, lah. Semoga terus bertambah baik.