2006/12/08

Di-poligami atau dijadikan gundik?

Mangga, ibu-ibu, teteh-teteh, neneng, dlsb. Silakan, mau pilih mana? Dijadikan istri sah, meskipun dg embel2 "yang kedua", atau dijadikan gundik (simpanan)?

Laki2 yang berpoligami itu sudah siap dengan segala konsekuensinya. Dia udah siap untuk berlaku adil dalam segala hal yang menyangkut rumah tangga. Dan lagi, tujuan poligami, kan baik. Ada yang mau melestarikan keturunan, ada yang mau membantu meringankan kesusahan orang lain, dll.

Ya, kalo tujuannya napsu, itu sih engga sah poligami-nya. Mending jangan poligami. Satu istri aja belum tentu bisa dinafkahi, mau punya banyak. Gak tahu diri!

2006/12/02

Hati-hati pakai FREN

Saya beli henpon paket Frensip Slimo pada tanggal 27 Nopember 2006, dan langsung aktif pada hari itu juga. Everything's went fine. Saya cuma SMS-an dan telpon2an sama temen dan engga sedikitpun ada niat untuk menyalakan fasilitas childish, termasuk RingGO (sumpah baru tahu hari ini ada monyet kayak ginian) yang nyedot duit ~9 ribu rupiah per bulan. Maklum orang miskin.

Tapi ada hal yang cukup mengagetkan dan sedikit mencurigakan. Suatu hari, teman saya nelpon ke henpon itu. Dan ketika saya terima, dia nyindir2 soal lagu yang katanya engga enak buat didengar. "Kenapa pula kau sindir aku dengan hal yang aku tak tahu?" Begitu saya pikir. Tapi akhirnya dia jelaskan, kalau ringtone di telepon saya menyanyikan sebuah lagu jazz yang tidak enak sedikitpun.

Penasaran. Saya coba call ke telepon FREN punya saya itu dari telepon lain. Eh, bener. Ada lagu najissss, yang mengalun tanpa jelas juntrungannya. "Apa pula ini?" Begitu pikir saya. Tapi kemudian saya inget, zaman sekarang ada yang namanya nada sambung pribadi, ya RingGo yang saya sebut di atas tadi. "Waduh, kok dikasih bonus RingGo?" Ya sudahlah, kalau itu bonus, aku sih terima aja gratisan. No what-what, lah, biarpun lagunya amit2 jelek. Namanya juga gratisan.

Tapi dasar anjing! Hari Jumat kemaren saya beli pulsa (10 rebu asal bisa ngeSMS mamah), dan cuma dipake SMS 1 kali. Tapi apa yang terjadi saudara2? Tiba2 pagi ini saya dapat SMS pemberitahuan bahwa pulsa saya tinggal 2000 sekian perak. HAH? Apa ini? Siapa yang ngebajak nomor gue?

Nelpon temen, lah, sesama pengguna FREN. Siapa tahu ada yang senasib. Ternyata engga. Sedih gue.

Akhirnya nelpon ke customer care-nya Mobile-8. Dan dapat keterangan mencengangkan. Bahwa saya mengaktifkan RingGo pada 2006/11/31 dari nomor saya sendiri. Sumpah, engga, gila. Dan yang lebih anjing lagi, saya engga dikasih alamat e-mail admin atau siapapun di Mobile-8 yang bisa dikasih tahu bahwa nomor saya dibajak orang. Tapi saya mau kirim ke root@mobile-8.com saja lah, mungkin akan diforward ke adminnya.

Yah, saat ini saya cuman bisa bilang: "ANJING!"

Henponnya masih saya pake, dong, mahal tahu. Orang miskin. Saya harap semua orang hati2 jika membeli henpon dengan operator CDMA FREN. Terimakasih.

Oh, iya. Jika tiba2 ada fasilitas yang aktif di henpon FREN anda, langsung telepon ke mobile-8, minta di-nonaktifkan. Jangan sampai ada uang yang terbuang untuk hal yang samasekali tidak anda sukai.

[Belepotan nih gue]

2006/12/01

Kayaknya engga pake judul aja

Emang susah kalo orang cuma tahu dari omongan orang (yg kita kenal "katanya") dan udah terlalu terbiasa dengan tampilan grafis yang menyilaukan mata (flashy, eye candy) sementara prosesnya disembunyikan. Dikasih isi proses juga kagak percaya. Keukeuh, aja. Susah deh kolaborasi sama orang yg visi dan misinya engga mirip sedikitpun.

Cape, deh.

Tapi wateper, lah. Moga2 penderitaan ini tidak berlangsung terlalu lama.

"Bosan, di rumah sendirian.
Mamah sibuk, Bapak pergi arisan.
Nonton tipi acaranya gak karuan.
Cuma iklan yg ngisi tiap saluran."
---Pesta Rap

2006/11/29

Attack initiated?

Initiating an attack, eh? Pretending that you needed to communicate? You're a little late, smartass. I already have a plan. Not a good plan, though. Just to make me stay on my principles.

Quite sure that you know, that I would rather die or back to my previous self than to submit to anybody. Please keep in mind.

2006/11/28

Ask the Big Guy for support

MS and it's products fail you? Found some corrupted documents from MS's applications? It's an easy deal. Call them, open a support ticket, do whatever make sense to ask them for support. MS is a big company. And you've spent a lot of money only to get the license so you can get the applications working. Pretty sure, they will overcome the problem as easy as they ripped your money.

But still you came to us. I'm not MS's associates. I don't even use the products. It's not a shame thing if I can't fix the problem. Can't read the source, though. Don't blame me for somebody else's sin. 

2006/11/24

Sales? Sedih amat.

Sebenernya dari dulu udah engga nyaman dg tugas yg dibebankan padaku. Tapi baru2 ini saja, setelah browsing ke situsnya orang lain, baru tahu kalau aku ini cuma seorang sales. Customer Service. Kirain kerjaanku keren, nyatanya keren-peng.

Jadi sedih. Pengen nangis.

Mamah, maafkan anakmu. Aku ingin pulang saja, Mamah.

2006/11/10

Idiot...... Idiot......

Kalimat "the best idiot ever" terasa benar-benar cocok dan melekat pada diriku. Kalimat ini tidak merupakan ironi, tapi mengandung makna memberatkan. Seperti, "I missed you, badly." Badly di sini bukan berarti jelek, tapi bermakna sungguh-sungguh. Dan inilah yang juga terjadi pada diriku.

Pemikiran "itu" sudah datang semenjak beberapa hari sebelun hari-H. Tapi bodohnya, tidak kulaksanakan. Akhirnya, menyesal karena tidak mendapat apa yang kuinginkan. Tapi berita hari ini sungguh mencengangkan. Mencengangkan karena apa yang aku lakukan benar-benar mencerminkan keidiotanku yang sungguh-sungguh. Tak ada ampun, aku memang seorang idiot.

I'm an idiot, the best idiot ever. Aku seorang idiot, idiot yang sesungguhnya.

Tapi, tenang. Si idiot ini juga manusia. Dia bisa memperbaiki diri. Dia akan memperbaiki diri. Do'akan.

``Sekali idiot, tetap idiot, Mas.''

Diem, monyong!

2006/11/03

Tomorrowland Tests About Me

Yeah, I've a lot of spare times. So, unpurposely, I took these quizes.

I'm a Mandarin!



You're an intellectual, and you've worked hard to get where you are now. You're a strong believer in education, and you think many of the world's problems could be solved if people were more informed and more rational. You have no tolerance for sloppy or lazy thinking. It frustrates you when people who are ignorant or dishonest rise to positions of power. You believe that people can make a difference in the world, and you're determined to try.

Talent: 33%
Lifer: 49%
Mandarin: 62%
Take the Talent, Lifer, or Mandarin quiz.


I'm a Dodge Viper!



You're all about raw power. You're tough, you're loud, and you don't take crap from anyone. Leave finesse to the other cars, the ones eating your dust.

Take the Which Sports Car Are You? quiz.

2006/11/02

Curhat Mudik dan Balik

Sebelumnya ini aku post di milis anak-anak Astronomi ITB angkatan 2000. Tapi dipikir-pikir lagi, lumayan juga kalo di-post di sini. Biar orang lain tahu. Lagian aku edit lagi, kok. Engga persis dg yang di milis.

Kemaren itu pengalaman pertamaku menjadi pelaku/komponen/korban "puncak arus mudik". Kalau dulu, selama kuliah, mudik dari Bandung ke Tasik lancar2 aja. Emang, sih, beberapa kali harus rebutan naik bis, tapi keseluruhan perjalanan lancar.

Ini kejadian pada 2006/10/21. Udah nongkrong di terminal Lebak Bulus jam 06.00, ternyata bis yg ke Tasik engga ada. Pas ada, kebayang sendiri, rebutan. Akhirnya, jam 12.00 naik bis yg ke Bandung, rencananya dari Bandung baru ke Tasik (Lebak Bulus terus Leuwi Panjang terus Cicaheum terus Cilembang). Dari Jakarta ke Bandung lumayan lancar, sampai akhirnya tiba di Cicaheum. Dari Cicaheum, berangkat menuju Tasik jam 16.00. Nyampe di Tasik jam 23.00. Perjalanan pendek terlama yang pernah kualami. Keren mamen!

Heuheu, tapi pasti ada yg bingung. Kok ke Bandung, kenapa engga ke Garut? Maklum, hehe, lagi pusing, panas, dan terus puasa lagi. Jadi agak ngelindur.

Pas balik ke Jakarta, kirain hari Senen (2006/10/30) bakal sepi, eh ternyata sama aja. Mungkin banyak yg sepikiran, ya. Tapi engga terlalu macet, lah, 6 jam dari Tasik sampe Lebak Bulus. Bukan puncak arus balik.

Hah? Engga rame? Emang tadi aku bilang rame? Baca lagi ke atas, engga ada yg bilang rame. Ngaco aja.

2006/08/28

Bingung Bahasa

OK, aku bukan ahli bahasa. Bahkan bukan `alih' bahasa. Tapi ada hal2 yang begitu terasa mudah disimpulkan, ternyata banyak orang yang salah dalam menggunakannya.

``Kalimat yang aneh.''

Jangan dipikirkan. Terutama, jangan menyinggung soal ketakmampuanku dalam menyusun struktur bahasa yang benar. Yang mana subjek, yang mana predikat? Pertanyaan itu yang pernah membuatku ingin bunuh diri.

Akhir-akhir ini aku sering nonton TV, maklum, pengangguran. Siaran yang paling sering kutonton adalah Metro TV. Andai tak ada Najwa Shihab, Rahma Sarita, Frida Lidwina, dan Gadiza Fauzi, sepertinya aku harus tak suka Metro. Kata `paska' dan kata-berimbuhan-di sering tampak (bukan `terlihat') pada subtitle maupun News Ticker.

Paska. Bukankah seharusnya `pasca'? Kata itu diserap bukan dari bahasa Inggris tapi Sansekerta (CMIIW). Dan `c' dalam bahasa Sanskrit tidak dibaca `k'. Jadi apa alasannya `pasca' menjadi `paska'? OK, lah, dulu orang sering salah baca tapi tidak salah tulis. Sekarang? Salah baca dan salah tulis. Engga tahu, deh, harusnya gimana. Mungkin para ahli bahasa harus segera menertibkan hal ini. Sebelum kesalahan ini terlanjur membudaya.

`Di' dalam kata dipakai, dibunuh, diserang, dimengerti, dll, adalah imbuhan. Biasanya dipakai dalam kalimat pasif. Misalnya, ``Roti dimakan oleh Dudi.'' Penulisannya imbuhan dengan kata yang diberi imbuhan haruslah disatukan. Jika dipisah, artinya `di' adalah sebuah kata (bukan imbuhan) yang menyatakan letak (tempat). Tapi yang sering tampak di televisi adalah: `di makan', `di serang', `dikedalaman', dan banyak kesalahan lain.

``Sudahlah, itu, kan, bukan urusan kita.''

Kau benar. Kita hanya praktisi bahasa, bukan pakar.

Kontes Putri-putrian: Murni Hiburan

Ribuan orang dan puluhan ormas menentang diselenggarakannya kontes putri-putrian. Banyak orang pula yang mendukung diadakannya acara tersebut. Diantara yang jelas menyatakan dukungannya: sponsor, jaringan televisi, dan masyarakat yang suka hiburan. Yang menentang: orang-orang peduli akhlak, kaum agamawi, dan organisasi keagamaan.

``Oke, saya ngerti Anda ingin ditanya. Bagaimana dengan Anda? Mendukung? Tidak?''

Kalau saya setengah-setengah. Dukungan dan tolakan saya tergantung dilihat dari segi apa. Jika kita perhatikan bahwa acara tersebut memberikan hiburan yang sangat spektakuler, saya dukung habis-habisan. Apakah ada cowok normal yang tidak suka melihat puluhan perempuan cantik, muda, dan seksi berjalan mondar-mandir dengan senyuman tersungging di bibir. Kagak nolak, dah, Gua.

``Segi yang lain?''

Perhatikan tujuan dari acara tersebut. Mereka mencari _duta_ budaya. Sayang, sebagian orang menganggap putri-putrian yang terpilih sebagai _idola_. Betul?

``Euh, apa iya? Engga tahu, ah.''

Nah. Jika pihak penyelenggara tidak menyatakan dan menjelaskan (sejelas-jelasnya) bahwa acara ini diadakan untuk mencari `duta pariwisata dan budaya', saya tolak. Karena akan menimbulkan apa yang disebut dengan `salah tafsir' di dalam masyarakat. Mereka tak perlu menjadikan juara kontes ini sebagai idola, bahkan mereka harus sadar bahwa sang juara hanyalah seorang SPG (Sales Promotion Girl).

``SPG? Serius, dong!''

Dua rius, malah. Tugas dari Sang Putri-putrian, kan, mempromosikan daerahnya. Apakah itu negaranya, atau propinsinya, atau bahkan kampungnya. Makanya syarat utama peserta ajang ini adalah: cantik. Engga perlu pinter. Persis SPG yang sering kita lihat di pameran produk. Bahkan juara putri-putrian sejagat saja tak bisa bahasa Inggris (malu, tuh, sama host dan hostess acara). Pantesan wakil Indonesia juga menyebut negaranya sebagai `big city'. Juaranya aja kayak gitu.

Jadi, buat gue, acara ini jelas murni hiburan. Kita, para cowok, kalau pergi ke pameran produk, tujuannya pasti ngeliatin para SPG. Sekalian cari produk yang pas dengan kantong, tentunya. Dengan SPG cantik, atau menarik, atau seksi, pameran jadi ramai pengunjung, kan. Mereka engga perlu pinter, yang penting mau senyum. Kita para pengunjung terhibur sekali.

2006/07/16

Linux di China

Saya baru saja baca majalah InfoLINUX edisi Juli 2006. Ada berita menarik tentang pemerintah China yang menyarankan penggunaan Linux untuk rakyatnya. Tentu ini adalah saran bagi rakyat dengan daya beli yang masih rendah. Langkah yang lebih maju diambil dengan melarang penjualan komputer yang `polos' atau tanpa sistem operasi, dan mengharuskan komputer yang dijual di China agar Linux-compatible.

Beda banget, lah, ya, dengan pemerintah Indonesia yang malah menjalin kerjasama dengan Micro$oft. Pastinya, dengan kerjasama ini, diharapkan orang Indonesia kecanduan produk Micro$oft dan akan terus membeli produk mereka. Bagi hasil dengan pemerintah tampaknya tak mungkin tak ada.

Udah, ah, mau mandi.

2006/06/15

Tayangan, Lahm, dan Indonesia

Tayangan Lengkap

Dinihari tadi, tayangan Piala Dunia di SCTV adalah yang terbagus. Hampir lengkap. Dari mulai pemain masuk lapangan, sampai para pemain Jerman tertawa di atas tangisan Polandia. Ya, Jerman adalah tim pertama yang memastikan lolos ke 16 besar. Permainan yang dramatik, mandul dan diselesaikan hanya dengan 1 gol di injury time. Tayangan yang penuh romantika. Salut.

Phillip Lahm

Saya lihat pemain Jerman yang bermain sangat baik tadi pagi adalah Philip Lahm. Saya baru tahu pemain ini ketika dia mencetak gol pertama Piala Dunia 2006. Mengingatkan saya pada Michael Owen ketika mulai menunjukkan sinarnya di Piala Dunia 1998. Lari cepat, dribbling bola, oper ke teman, shooting, pokoknya keren. Udah gitu, posturnya juga kecil dan pendek. Paling pendek di antara para pemain Jerman. Yet, permainannya bagus, penuh semangat, dan harusnya bisa menginspirasi. Sayang, sepertinya Klinsmann sedikit salah menempatkannya di posisi belakang, saya pikir harusnya dia menjadi gelandangan, eh, gelandang penyerang.

Sukses, dah, buat Lahm. Kalau bisa main bagus, mungkin bakal main di klub besar dan masih akan main di 3 Piala Dunia berikutnya.

Indonesia ke Piala Dunia? Masak, sih?

Catet, saya mungkin orang yang punya keinginan terbesar untuk melihat PSSI bermain di putaran final Piala Dunia. Tapi, ini perndapat pribadi, kayaknya sesuatu yang masih sulit untuk dicapai. Long, long way to go. Pertama mental para pemain harus digodok dulu. Salahsatu alat untuk ini tentu adalah liga domestik, mengingat jarang sekali pemain Indonesia yang main di luar negeri. Tapi, maksud hati memeluk gunung, apa daya gunungnya aja engga ada. Menejmen kompetisi di Indonesia memungkinkan PSSI untuk tidak bermain di Piala Dunia.

Lihat saja, ketika kita dimanjakan dengan tontonan permainan tingkat internasional, kemanjaan kita ditambah dengan tontonan dalam negeri karena ternyata liga Indonesia masih berlanjut. Bagaimana bisa pergi ke Jerman kalau liga domestik aja belum kelar? Lihat negara-negara besar sepakbola di Eropa, tiap dua tahun selang-seling ada Piala Eropa dan tentu Piala Dunia. Agenda untuk acara besar itu, kan, hampir pasti: Juni-Juli. Dan kita lihat liga di negara-negara itu sudah selesai sebelum pehelatan besar dimulai. Padahal hampir tiap negara punya kompetisi liga dan piala liga. Tapi karena menejmen yang benar dan profesional, mereka tetap bisa sukses.

Gimana? Pada pengen engga, sih, ngeliat PSSI main di Piala Dunia? Saya akan lupakan Jerman dan Perancis, saya akan dukung Indonesia, andai PSSI bisa masuk ke putaran pertama babak final Piala Dunia. Tak peduli walau harus kalah dalam tiga pertandingan pertama dan tidak lolos 16 besar. Yang penting saya bisa ngelihat orang-orang sebangsa berlaga, dan bisa mendengar Indonesia Raya berkumandang di stadion saat pertandingan akan dimulai?

Harapan yang berlebihan? Saya harap tidak.

2006/06/12

Perbaikan

Yeagh!!! Ada peningkatan, tuh, si SCTV. Ayo terus, perbaiki dirimu! Beri orang Indonesia tayangan bermutu! Kalau kian lama kian bagus, aku mendukungmu!

2006/06/11

Jadi Yang Terjajah

Begini ini, kalau jadi orang terjajah. Penjajahan yang dimaksud bukan penjajahan oleh Belanda dan Jepang di masa lampau. Tapi penjajahan dalam hal lain. Ini kekecewaan saya setelah menunggu 2 jam untuk menonton pertandingan pertama Piala Dunia 2006 Jerman vs. Kosta Rika tadi malam. Di SCTV tentunya.

``Oh, dijajah sama SCTV, toh?''

Bayangkan, selama 2 jam kita disuguhi tontonan yang samasekali tidak bermutu. Lagu-lagu dari band yang tidak saya sukai, nona-nona `Gila Gol' yang engga keruan, kuis antah berantah, dan obrolan komentator yang engga pada tempatnya. Padahal dari jauh-jauh hari saya sudah berharap SCTV bisa menayangkan Piala Dunia dengan jauh lebih baik dari RCTI di tahun 2002. Tapi apa lacur, mereka semua cari duit dan tidak peduli pada penonton.

Tadi malam itu sebetulnya saya menunggu upaca pembukaan yang diadakan di Jerman. Saya pikir dalam waktu 2 jam yang disediakan, SCTV akan menayangkan upacara pembukaan secara lengkap. Nyatanya nol besar. Saya juga ingin romantika pertandingan piala dunia seperti ketika ditayangkan TVRI zaman dulu. Para pemain keluar dari ruang ganti, berbaris di tengah lapangan dengan rombongan anak-anak untuk menunjukkan kepedulian, dikumandangkannya lagu kebangsaan tim yang bertanding, salaman, tukar cinderamata (bendera kesebelasan), dan akhirnya peluit kick-off. Tadi malam semua itu tidak ada. Saya kecewa. Padahal momen-momen seperti itu termasuk inspirational. Seandainya anak-anak Indonesia melihat itu, bukan tidak mungkin timbul keinginan mereka untuk bisa menyanyikan Indonesia Raya di perhelatan besar seperti ini. Semangat bisa bangkit. Yah, setidaknya semangat. Moral.

Tapi ada satu hal yang saya cukup senang, dan saya harap akan diertahankan SCTV sampai final nanti. Kalau engga bisa memperbaiki setidaknya pertahankan yang sudah baik.

``Apa?''

Yang saya senang adalah: tidak ada iklan selama tayangan pertandingan. Tak ada banner sponsor. Tak ada label sok tahu (replay, reverse angle, dll.). Ini cukup menggembirakan. Ingat di tahun 2002? Banner iklan setengah layar. Sudah gitu, layar digulung ke atas hanya untuk menampilkan iklan sponsor. Dan yang paling parah: iklan Extra Joss (sponsor utama) langsung flashing tepat saat kick-off. Sudah tak perlu diceritakan lagi kalau pesan UNICEF `Say yes to children' tidak pernah ditayangkan.

Parah, kan? Tapi pablebuat, cuma siaran mereka itulah yang bisa saya tonton. Seandainya saya bisa mengakses siaran TV luar negeri yang pasti menayangkan secara lengkap (ESPN mungkin?), saya tak perlu lagi menderita seperti ini.

``Yah, namanya juga kaum terjajah.''

Nah, itu dia, kita ini orang terjajah. Entah kapan kita akan merdeka. Mungkin, tak 'kan pernah merdeka. Sedih.

--Edit--
Ada peningkatan, deng, pas nonton Inggris vs. Paraguay setidaknya salaman dan tukeran bendera ditayangin. Udah gitu, salaman plus pelukan di akhir pertandingan juga diliatin. Bagus, lah. Semoga terus bertambah baik.

2006/05/16

Korupsi darah daging

Wuih, udah 4 bulan sejak posting terakhir. Kangen, euy. Tapi, pablebuat, intensitas ber-Internet-ku sekarang turun drastis dibanding zaman masih mahasiswa. Makanya pengen cari kerja yang fasilitas Internetnya bagus. Mungkin karena itu, ya, saya belum juga dapet kerjaan. Okay, deh, langsung ke curhat aja. Kali ini pengen curhat soal korupsi.

Kayaknya yang namanya korupsi di Indonesia adalah hal yang sulit untuk dihilangkan, karena sudah mendarah daging pada jiwa bangsa. Ini korupsi secara umum, bukan cuma pejabat tinggi yang korupsi pada negara tapi juga pejabat menengah-rendah yang korupsi terhadap rakyat (belum masalah korupsi waktu dan kepercayaan). Pasti engga aneh, dong, sama yang namanya ``uang pelicin'', ``pengganti ongkos'', dll, dsb, sby... eh salah. Semua itu, kan, termasuk korupsi. Korupsi terhadap rakyat. Iklan ``Tanyaken... apa?'' yang menampilkan seorang pegawai kelurahan (atau yang sejenis) yang menunggu ``uang pelicin'' ketika mau memberi stempel tanda pengesahan, memberi gambaran jelas tentang apa yang terjadi di seluruh Indonesia (dengan beberapa pengecualian seperti Kabupaten Sragen). Padahal pegawai itu, kan, sudah mendapat gaji? Kenapa juga masih harus mencari objekan lain yang jelas-jelas dosa yang tidak terpuji (sulit nyari dosa yang terpuji).

Ini pengalaman saya kemaren banget. Saya bertanya pada RT setempat tentang bagaimana pembuatan Kartu Tanda Penduduk Sementara/Musiman (KTPS), kebetulan beliau mendatangi rumah penduduk untuk menagih uang keamanan (padahal sepatu saya sering hilang). Saya engga yakin kalau proses pembuatan KTPS ini perlu biaya yang besar (namanya juga wajib, masak harus bayar mahal?). Tapi apa yang terjadi?

``Pak saya takut kena razia KTP, bikin KTPS bagaimana dan apakah harus mengeluarkan biaya?'' tanya saya ke ketua RT.

``Seratus ribu, De,'' jawabnya. ``Atau kalau mau ngurus sendiri, sih, paling delapan puluh sampe sembilan puluh rebu.''

``Kok, mahal amat sih, Pak?'' saya terkaget-kaget. Gila aja, seratus rebu bisa buat makan sekitar lima belas hari.

``Aslinya, sih, De, cuman sekitar tujuh puluh lima ribu, jatohnya segitu,'' beliau menurunkan harga. ``Yang lebihnya itu buat ongkos sama rokok.''

Buset! Kalo yang kena razia aja didenda tujuh puluh lima ribu perak dan langsung dibuatkan KTPS-nya, kenapa juga kita harus bikin di RT yang ternyata lebih mahal? Waduh-waduh, ternyata rakyat jelata juga jauh di lubuk hatinya punya jiwa korupsi, kronis nampaknya. Kumaha, atuh?

``Emh, entar, deh, Pak, saya tanyain dulu berapa harga pastinya. Entar kalo saya mau bikin, saya ke rumah bapak aja.'' Eits, berhasil, si RT langsung pamitan sesudah itu.

Tuh, kan, padahal KTPS ini penting, bisa mencegah terorisme dan lain-lain. Tapi, kok, dibuat susah? Dengan mematok harga seperti itu aja udah mempermiskin rakyat, kan? Haduh, Pemerintah, dimana dirimu? Ingatkah kau pada tanggung jawabmu? Bukannya melayani rakyat, malah menyengsarakan rakyat. Atau, jangan-jangan, instruksi dari Pemerintah pusat mengatakan engga perlu pake biaya, tapi dibiayakan oleh pemerintah/pejabat daerah? Wah, tambah pelik, dah.

Sebetulnya, kalau pemerintah pusat ngasih pengumuman yang disosialisasikan dengan serius (lewat media massa, surat-surat resmi kepresidenan, dll), bahwa pengurusan hal-hal seperti itu engga butuh biaya, saya yakin setidaknya korupsi pada rakyat akan sedikit berkurang. Setidaknya, orang langsung bisa protes ketika di kelurahan diminta 25000 perak hanya untuk membuat KTP. Dan kalo bisa, ada pos pengaduan juga. Kita bisa lapor (dengan bukti tentunya), bahwa di kelurahan Takada, kecamatan Entahlah, kota Tiada, telah terjadi pemerasan oleh pejabat daerah dengan kedok biaya pembuatan KTP.

Solusi terbaik saat ini sepertinya adalah mencontoh kabupaten Sragen yang mendirikan kantor terpusat untuk mengurus hal-hal administratif seperti itu. Insyaallah, rakyat menjadi lebih terlayani. Kalo ada yang baca dan bisa menghubungi SBY (presiden itu, lho :-P) tolong usulin, ya.Itu aja dulu, lah, curhat kali ini. Curhat yang lain mungkin di posting berikutnya. Semoga ada umur, ada duit, dan ada keinginan.

2006/01/16

Counting down the hours

Hello, robot. My final examination (orally defensive) is tomorrow, 11 am. WIT. So it's now I'm counting down the hours.

Wuaaa, everything's make me sick. Sick down to the deepest part of sickness. Bahasa apa, tuh?

2006/01/12

Klaim Paten Micro$oft Atas FAT

Baca berita di CNET tentang klaim paten Micro$oft atas FAT, jadi agak merinding. Entar modul vfat di linux harus dibuang, dong, soalnya kalo modul itu ada, linux engga bisa didistribusikan dibawah GPL.

``Lah, kalo linux engga GPL, engga gratis, dong?''

Bisa jadi. Sebenernya gak jadi masalah, tinggal migrasi ke mesin mirip UNIX yang gratis dan pake NFS (samba buang aja), kita gak perlu berhubungan sama FAT. Jadi si linux bisa ngebuang modul vfat dengan damai. Yang jadi masalah adalah karena orang Indonesia (temen2 gue) banyak yang masih pake Winblows bajakan, sharing file diantara kita bakal sulit, dong. Plesdis bisa gue format jadi ext2 atau malah squashFS, tapi si Winblows goblok, kan, cuman bisa baca FS buatan dia sendiri. Plesdis gue buat apaan, dong?

Semoga cuma di AS FAT dipatenkan, atau kalo bisa di AS juga jangan dipatenkan. Terkutuklah kantor paten yang menerima klaim Micro$oft untuk mematenkan FAT.

``Udah, urusin, tuh, sidang.''

Iya....!