2005/05/13

Indonesia Absurd

Owh, I didn't mean to be that cruel calling my own nation with that word. Tapi..., kalau kenyataannya emang gitu, mau gimana lagi? Bukti? Hmm, bukti konkrit mungkin engga ada, karena sudah pasti disembunyikan oleh orang2 yang lebih powerful dari rakyat biasa. Bukan nyindir, nih, cuman kalo engga gitu maka tak ada penjelasan lain.

Beberapa hari yang lalu saya nonton sebuah film di sebuah televisi swasta nasional. Biasanya saya tulis saja nama yang bersangkutan, tapi sehubungan dengan kelupaan saya, maka saya tulis ala pejabat atau artis saja. Film yang dibintangi Dolph Lundgren itu ber-genre ``blood-action'' dimana orang2 berantem sampe berdarah2, kemudian baku tembak yang mengakibatkan para tokoh cerita terjungkal kehilangan nyawa. Intinya, emang sih cuman film, tapi itu jelas untuk konsumsi dewasa. Bahkan status ``akil-balig'' saja belum bisa mendapat izin untuk menonton film tersebut. But, guess what? Dengan absurd, stasiun televisi tersebut menambahkan label ``SU'' di kanan bawah layar siarannya.

Seumur hidup saya mengenal dunia, saya tahu beberapa singkatan umum yang digunakan pertelevisian untuk klasifikasi pirsawannya. Dan SU tak mungkin lain dari SEMUA UMUR! Apakah saya salah jika mengatakan itu sebagai hal yang bejat? Dan kelihatannya orang2 pers, pemerintah, pemerhati perkembangan anak bangsa, aktivis HAM, dll tidak ambil pusing dengan hal itu. Atau saya engga tahu perkembangan yang terjadi diatas sana, ya?

Bukti lain, adalah beredarnya film2 kartun Jepang yang sudah dalam bentuk VCD original dan telah melewati badan sensor, Lembaga Sensor Film. Saya tidak mengatakan semua anime. Saya hanya melihat di sebuah anime terkenal berjudul ``Neon Genesis Evangelion'' (pinjem dari temen) yang isinya jelas bukan buat konsumsi anak2. Tapi sekali lagi, guess what? Ada catatan yang sangat pongah dari Lembaga Sensor Film di bagian awal tiap VCD, bahwa film tersebut telah lulus sensor dan ratingya: SU. Protes? Masak adegan cewek telanjang (biarpun kartun), cium2an, nama2 Malaikat (Gabriel, Shamsiel, Israfel) yang dijadikan makhluk antagonis, adalah konsumsi semua umur? Saya hanya seorang idiot yang begajulan, tapi common sense saya mengatakan, setidaknya anime tersebut adalah untuk remaja yang sudah bisa membedakan mana yang mengada-ada dan mana yang betulan.

Masalah multimedia masih banyak, tapi tidak akan saya kemukakan semua. Entar Pak Roy Suryo marah.

Saya tidak sepenuhnya yakin, tapi pembangunan sarana umum seperti Mall harusnya mendapat izin dari pemerintah setempat. Betul? Lalu kenapa di dekat sebuah sekolah yang sudah berdiri sejak lama, malah dilakukan pembangunan Mall yang jelas mengganggu aktivitas KBM (bising lah, hay)? Apa engga peduli dengan masa depan anak2 bangsa? Kalo engga peduli, jangan terus2an menekan kami untuk belajar, berkarya dan berprestasi dong! Udah harga mahal, ketentraman diganggu, orang miskin tambah miskin, orang kaya tambah kaya (tapi sering sakit), moralnya rusak lagi.

Rasanya saya hidup di sebuah negara yang tidak memunyai pemerintah dan norma. Perfect disaster!

2005/05/03

Encode, uptime, dll

Ah senangnya bisa posting di blog lagi. Kangen banget, euy. Tapi bingung mau nulis apa ya? Miskin ide nih. ``Bukannya dari dulu juga miskin?'' Yeah, seperti itulah.

Beberapa hari terakhir ini saya sedang belajar encoding. Bukan menulis kode program encoding tentunya. Masih jauh lah ke situ mah. Saya berusaha mengencode serial Smallville dari DVD. Bukan untuk dijual!!! Buat konsumsi sendiri. Proses encoding dengan pustaka XviD menggunakan perangkat lunak transcode menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam untuk video stream sepanjang 45 menit.

Ini jelas berpengaruh pada uptime sistem. Saya biasanya membiarkan komputer menyala sekitar 10 jam per hari. Itupun kalau sedang mengerjakan tugas yang membutuhkan pekerjaan mengetik dalam waktu yang lama. Tapi dengan aktivitas encoding, uptime komputer saya tak bisa kurang dari 15 jam per hari. Karena kebanyakan hasil encoding tidak memuaskan saya, sehingga harus diulang. Setting XviD-nya belum bener nih.

Tapi kemudian saya menyadari sesuatu. Bahwa komputer saya (Duron 1.1) tidak mengalami penurunan performa walaupun uptime-nya lama. Berbeda dengan dengan yang dikeluhkan seorang teman yang menggunakan Athlon 1.x (saya lupa, tapi diatas spesifikasi saya), dimana dia selalu merasakan adanya penurunan performa mesin seiring bertambahnya uptime. Mungkin benar rumor selama ini (sebetulnya ini bukan rumor) bahwa OS Mandrakelinux dengan kernel linux yang saya gunakan lebih mampu menangani tugas2 berat dan memiliki manajemen memori yang lebih baik dari OS WinXP yang digunakan oleh teman saya.

Tuh kan ngelantur. Udah ah.